Indahnya Saling Nasehat-Menasehati

Indahnya Saling Nasehat-Menasehati
BREAKING

Jumat, 18 Mei 2018

AL-KHOFIDH - Maha Menjatuhkan/Merendahkan



ALLOH SWT berfirman:

خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ
khoofidhotur roofi'ah

"(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)."
QS. Al-Waqi'ah (56)/3

Qarun adalah sepupu Nabi Musa.
Tadinya Qarun sangat miskin.
Hingga suatu hari ia memohon kepada Nabi Musa: “Doakan saya, Musa, agar ALLOH memberi saya kekayaan.”
Nabi Musa berdoa dan ALLOH pun mengabulkannya.
Maka harta Qarun semakin bertambah, bertambah dan bertambah terus.

Saking banyaknya, Qarun harus membangun gudang-gudang besar unuk menyimpan hartanya.
Gudang harta itu demikian banyak sampai kuncinya saja harus diangkat beramai-ramai oleh orang-orang yang kuat.

Tapi sayang, Qarun lupa bahwa harta itu adalah pemberian ALLOH.
Ia jadi sombong, kikir dan tidak mau bersedekah.
Qorun berkata:
“Harta ini kudapat dari hasil kerja kerasku!
Kalau orang-orang miskin itu mau kaya, mereka harus bekerja keras pula sepertiku!”

Akhirnya ALLOH membenamkan Qarun dan seluruh hartanya ke dalam tanah.

ALLOH yang merendahkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu dengan dengan kutukan dan merendahkan musuh-musuh-Nya dengan
menjauhkan mereka dari-Nya..

Barang siapa yang memperturutkan nafsu-nafsu hewani, ALLOH akan menurunkan dirinya ke derajat paling rendah.
Hanya Alloh-lah yang mampu melakukan semua ini karena Dia Yang Maha Merendahkan.

Ber-Dien Islam, seharusnya setiap orang sadar dan menyadari bahwa dirinya berada Di tempat dimana seseorang akan dihantarkan pada derajat stingginya di atas smua makhluk ciptaan ALLOH, tetapi jika aturan nya tidak diikutinya, maka berarti dirinya membiarkan terseret menuju pada kedudukan makhluk ciptaan ALLOH yang serendah rendahnya...

Kamis, 17 Mei 2018

Al Qaabidh - Yang Maha Menyempitkan



Al-Qaabidh mengandung dua pengertian, yaitu menyempitkan rezeki dan memendekkan umur.
Di tangan-Nya segala urusan rizki, dan di dalam genggaman-Nya pula soal nyawa makhluk-Nya.
Ketika Dia menahan rizki milik-Nya atas seseorang, hendaklah ia tidak protes, sebab rizki itu milik-Nya dan hak-Nya Dia semata untuk membagikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

ALLOH Subhanahu wa Ta'ala, berfirman:
“Dan ALLOH menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
QS. Al-Baqarah (2)/245

Untuk itu, sikap yang baik adalah menerima dan meyakini akan kasih sayang-Nya.
Keyakinan itu hendaknya diwujudkan dalam bentuk do’a dan ikhtiyar.
Terus berusaha keras dan cerdas untuk memperolehnya, seraya tidak lupa memanjatkan do’a.

Bagi kita, mengenali sifat dan asma  ALLOH  Al-Qaabidh ini, akan mendorong kita untuk berhati-hati menjalani hidup.
Kita tidak akan main-main ketika diberi titipan amanah apapun, sebab bila ALLOH melihat sesuatu yang tidak beres atas perilaku hamba-hamba-Nya, maka Dia segera mengambil tindakan dengan dua tujuan, yaitu peringatan atau hukuman.

Ketika kita lalai atau amanah karena khilaf, maka untuk memperbaikinya atau untuk mengembalikan kita pada orbit yang benar, ALLOH mengambil tindakan dengan menyempitkan gerak langkah kita melalui berbagai cara.
Mulai dari menyempitkan rizqi, memberikan rasa sakit, membatasi akses dan kesempatan, sampai pada menjadikan kita sesak dada dengan adanya berbagai tekanan dan himpitan permasalahan.

Seorang yang arif ketika menghadapi situasi seperti ini segera menyadari bahwa itu semua adalah teguran ALLOH, kemudian meresponnya dengan kembali pada jalan yang benar sesuai kehendak-Nya.

Untuk itu kita diajarkan bermunajat kepada-Nya agar diberi hikmah kearifan, dalam do'a:

رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ

robbi hab lii hukmaw wa al-hiqnii bish-shoolihiin

Ibrahim berdoa:
Ya Tuhanku...
berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh,"
QS. Asy-Syu'ara' (26)/83

Dengan hikmah kearifan itu kita bisa menangkap berbagai bentuk “sinyal” peringatan ALLOH yang didatangkan kepada kita.

Adapun bagi mereka yang keras kepala atau hatinya telah mati, berbagai peringatan ALLOH tidak direspon secara positif.
Mereka tetap berada di jalan yang sesat, sekalipun peringatan itu datangnya bertubi-tubi.
Terhadap mereka ini sudah sepantasnya diberi hukuman.

Hikmah lain dari kesadaran kita terhadap Asma ALLOH Al-Qaabidh adalah penerimaan kita terhadap segala putusan Alloh.
Orang-orang yang arif akan memandang bahwa segala sesuatu yang telah diputuskan ALLOH pasti yang terbaik.

Hal ini mengharuskan kita untuk “ridho” menerima segala ketetapan ALLOH dengan lapang dada, baik yang menyenangkan maupun yang tidak.
Keridhoan itu merupakan manifestasi dari keyakinan kita kepada taqdir Ilahi.
Dengan keridhoan itu, insya-ALLOH kita akan merasakan sekaligus menikmati lezatnya iman.

Senin, 09 April 2018

Berguru Pada Air



Alloh SWT berfirman:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi orang yang berakal,"
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka."
QS.Ali 'Imran (3)/190-191

Air adalah makhluk ciptaan ALLOH...
Air adalah hamba ALLOH yg setia taat patuh kpada perintah ALLOH...

Kita juga, Manusia adalah ciptaan dan hamba ALLOH ...

Selayaknya, kita mjalani hidup kita sbagai hamba ALLOH sperti air...
Agar sukses hidup kita di Dunia dan di Akhirat....

Ada apa dengan air?

Mari kita berguru kpada air....

Air bersifat mengalah,
namun selalu tidak pernah kalah..
Air mematikan api dan membersihkan kotoran..

Kalau merasa sekiranya akan dikalahkan,
air meloloskan diri dalam bentuk uap dan kembali mengembun.

Air merapuhkan besi sehingga hancur menjadi abu...
Bilamana bertemu batu karang, dia akan berbelok untuk kemudian meneruskan perjalanannya kembali...

Air membuat jernih udara sehingga racun menjadi mati...
Air memberikan jalan pada hambatan dengan segala kerendahan hati.
Karena dia sadar bahwa tidak ada suatu kekuatan apapun yang dapat mencegah perjalanannya menuju lautan....

Air menang dengan mengalah,
dia tidak pernah menyerang, namun selalu menang pada akhirnya.....

Air bisa tersebar dimana-mana di seluruh daratan bumi ini, di dalam tubuh manusia, di dalam pohon dan di segala jenis makhluk....
Tetapi ia memiliki tujuan yang jelas yaitu “Laut”.

Pasti...
Air akan begerak dan mengalir ke laut,Tujuannya jelas, cita-citanya kuat. ...

Gerakannya tegas mengarah ke tujuan, langkahnya pasti menuju lautan....
Air turun dari gunung melalui jalur darat yang terjal, ia membuka hambatan-hambatan dengan penuh kelembutan, kesabaran dan keuletan.
Jika ia bertemu batu cadas yang keras, ia berkelok ke pinggirnya, jika dipinggirnya juga batu keras, ia tertawan.

Tapi....
Air tidak pernah menyerah, ia bergerak secara rahasia, menembus pori-pori batu mencari celah jalan walau hanya sebesar lubang jarum atau lebih kecil, merembes terus menelusuri lorong-lorong mikro kecil sibatu keras yang menawannya. Sehingga muncul mata air, air keluar dari bebatuan, atau dari tanah-tanah subur....

Sungguh....
perjalanan yang tidak mudah dibaca dari rupa air yang lembut tetapi berhati kuat tegas menuju cita-cita....

Jika Sang batu tidak bisa ditembus, karena sang batu berhasil merapatkan, dan memadatkan dirinya, tak sedikitpun memberi peluang air merembes, menerobos pertahanannya....

Maka, Sang air akan dengan sabar menunggu kawanan air lain datang berkumpul, bersekutu menghadapi kepungan batu keras tadi....
Jika sudah terkumpul, maka ia lampaui batu keras keatasnya dengan tenang tanpa menghancurkan batu keras tersebut...

Namun...
jika tidak bisa dilampaui, kadang sang air berubah menjadi uap, bersekutu dengan sang surya.
Naik ke atas namun tidak untuk menuju matahari, ia hanya sekedar menebar di udara menjadi titik titik uap yang berserakan untuk kemudian menjatuhkan diri dengan lembut menjadi embun karena tujuannya adalah Laut....

Tapi...
Jika Sang surya tidak bisa dijadikan sekutunya maka ia bergeriliya untuk melubangi batu keras itu secara perlahan-lahan namun pasti...
Tercipta rembesan rembesan ciptaan air, bukan lubang kecil bawaan sang batu...
Tapi...
jika tidk bisa juga?,
ia basahi, basahi, basahi batu itu agar menjadi rapuh...
Kadang sang batu terlalu kuat.
Lantas bagaimana sang air?
Apakah ia prustasi? patah semangat? Kehilangan orientasi menuju tujuannya?

Tidak tak ada kata menyerah kalah bagi sang air, ia teramat kukuh kuat memegang komitmen dan menuju cita-citanya....

Sepertinya lembut, sepertinya lemah,
sepertinya mengalah,
ia kuat, lebih kuat daripada batu atau baja yang mengepung dan menawannya.
Ia akan menampakan dengan kekuatan sesungguhnya,
ia hancurkan batu besar yang menawannya,
ia jebol pertahananya;
*“Luar Biasa!”.*

Kadang ia dipaksa membeku menjadi es. Namun pada waktunya ia bergerak mencair kembali...

Rupanya kekerasan dan kelembutan tidak sanggup menahan gerak laju sang air yang berkeras menuju cita cita perjalanannya....

Ia lembut namun tak bisa ditusuk, tak bisa dipatahkan, tak bisa dihancurkan dengan kekuatan apapun...

Dia tetap eksis walau dengan berubah wujud, kadang cair, bisa jadi padat bahkan bisa juga bersenyawa dengan udara menjadi uap....

Dia dinamis dan pleksibel dalam wujud tetapi identitasnya tetap, eksistensinya tetap “AIR”.

Formasinya juga fleksibel, jika ditampung dalam botol akan membentuk botol, jika ditampung dalam gelas akan membentuk gelas.

Dalam tubuh manusia, air akan keluar dalam format darah, keringat, nanah dan air mata.

Dlm mjalani hidup ini, agar tercapai damai dan bahagia, haruslah disikapi Dan dijalani dg flesibel walau melelahkan demi mencapai cita-cita....

Sifat air...
Fleksibel dalam format, dinamis dalam gerak, tetapi tetap eksistensinya dan tetap identitasnya.

Sperti Itulah smestinya kepribadian stiap mu'min Muslim dan Muttaqien dlm mjalani prikhidupan sehari hari dlm mjalani hidup nya sbagai hamba ALLOH agar sukses amanahnya selaku khalifatulloh....

Smoga ALLOH subhanahu wa ta'ala mjadikan hari hari Yg kita lalui snantiasa dpt meningkatkan kualitas keimanan keislaman serta ktaqwaan kita smua....

Jumat, 23 Maret 2018

Nasehat Sayidina Ali bin Abi Thalib



Sayidina Ali bin Abu Thalib rodiyallohu anhu, memberi nasehat..

_Akal adalah raja sedangkan tabiat adalah rakyatnya, jika lemah akal untuk mengatur tabiat maka akan timbul kecacatan padanya._

_Orang yang bijak itu adalah mereka yang membalas kejahatan dengan kebaikan._
_Orang yang bijak adalah mereka yang paling mulia jiwanya di antara manusia._

_Sesungguhnya kebenaran itu berat dan sehat, sedangkan kebathilan itu ringan dan berpenyakit._
_Tidaklah seseorang bersimpuh di hadapan Al-Quran, melainkan ia mendapatkan tambahan dan pengurangan, Tambahan ke dalam petunjuk dan pengurangan dari kebutaan._
_Ketahuilah tiada seseorang yang akan merasakan kekurangan jika bersama Al-Quran dan tidak akan ada yang merasa berkecukupan dari selain Al-Quran._

_Makanan pokok tubuh adalah makanan yang biasa engkau makan, sedangkan makanan pokok akal adalah hikmah, maka kapan saja salah satu dari dua makanan pokok itu hilang akan binasa.._
_Manusia yang paling mulia di sisi Alloh adalah orang yang menghidupkan akalnya dan mematikan syahwatnya serta melelahkan dirinya untuk kebaikan akhiratnya._

_Baik-baiklah kalian dalam menyertai setiap kenikmatan karena ia akan hilang, dan ia akan bersaksi terhadap orang yang memperoleh kenikmatan itu atas apa yang ia lakukan terhadapnya._

_Janganlah kamu bangga dengan harta dan kelapangan, dan janganlah kamu bersedih dengan kefakiran dan cobaan, karena emas diuji dengan api, dan mukmin diuji dengan cobaan._

_Meninggalkan dosa jauh lebih mudah daripada melakukan taubat.
Merupakan kafarat bagi dosa-dosa besar adalah menolong orang yang teraniaya dan menghibur orang yang dirundung kesedihan._

_Sehatnya badan karena sedikitnya dengki, dan kedengkian itu diwariskan sebagaimana diwariskannya harta._
_Jadilah manusia yang baik dalam pandangan Alloh_
_Jadilah manusia yang buruk dalam pandangan sendiri._
_Jadilah manusia yang biasa dalam pandangan orang lain._

_Tidak dapat dikatakan sedikit sebuah perbuatan seseorang yang disertai dengan ketakwaan kepada-Nya, bagaimana itu dikatakan sedikit sedangkan ia telah diterima oleh-Nya._

_Jika tanganmu tidak mampu membalas suatu kebaikan maka perbanyaklah lisanmu dengan ucapan terimakasih._

_Nasehati temanmu dengan perilaku yang baik terhadapnya, dan jauhkan kejahatannya dengan berbuat baik kepadanya._

_Sesungguhnya diam adalah sebuah pintu di antara pintu hikmah._

_Tawa seseorang yang sadar akan dosanya adalah lebih baik ketimbang tangis seseorang yang merasa telah memberikan keuntungan kepada Tuhannya._

_Murah senyum itu bukti kasih, sabar itu kuburan aib._

_Sabar itu lebih pahit daripada racun._

_Hati yang kosong dari ketaqwaan akan dipenuhi dengan fitnah-fitnah dunia._

_Pengetahuan yang terakhir dari seseorang adalah mengenal dirinya._

Semoga memberi manfaat Untuk diri kita menjadi lebih baik dihadapan ALLOH subhanahu wa ta'ala...

Amien ya robbal alamien

Minggu, 11 Maret 2018

Didikan yang mengagumkan



Ketika Tahu Anaknya Mencuri Barang, Ibu Ini Hanya Melontarkan "4 Pertanyaan Sederhana", Namun "Hasil Didikannya" Berhasil Membuat Semua Orang Kagum!

Hari itu langkahku terhenti ketika tak sengaja mendengar percakapan seorang ibu yang sedang mengajari anaknya di pinggir jalan.

"Mama minum yakult kamu sampai habis semua, kamu sedih nggak?"

"Sedih!" Jawab sang anak berlinang air mata.

"Kamu ambil tisu toilet di McD sampai habis, kalau nanti manager restonrannya nyalahin kakak yang bersihin toilet sampai gajinya dipotong, kakak yang bersihin toilet sedih gak?"

"Sedih!" Jawab sang anak sambil menunduk tak berani melihat mata ibunya.

"Mama harusnya minta ijin dulu sebelum habisiin yakult punyamu, mama minta maaf, ini mama beliin lagi satu boltol yakult baru. Tapi kakak pembersih toilet di McD nasipnya gimana dong?"

"Aku gak tau harus gimana ma..." ujar sang anak ambil memainkan baju.

"Coba kamu pikir dulu, mama percaya kamu pasti tahu."

Setelah berpikir keras selama beberapa saat, akhirnya anak itu menjawab,"Aku tahu Ma! Aku akan belikan permen kesukaanku untuk mereka, gimana?"

Ibu tersebut sesaat tampak ragu, hal tersebut jelas bukan cara yang tepat untuk minta maaf. Namun demikian, ia tetap mendukung keputusan sang anak dan menemaninya membeli sekantong besar permen kemudian mengantarkan anaknya sampai ke depan pintu restoran.

"Mama tunggu kamu diluar yah, kalau permennya gak diterima gak apa-apa, nanti mama akan ganti rugi. Kamu pasti bisa!" ujar sang ibu.

Penasaran, aku mengikuti anak tersebut masuk ke dalam restoran. Ketika itu adalah jam makan siang, semua pegawai di restoran sibuk melayani para tamu yang datang. Tak peduli seberapa keras ia berusaha, suara sang anak tertelan dalam keramaian tanpa ada satu orangpun yang menyadari. Tangan kecilnya terus berusaha mengangkat satu kantung plastik besar, namun tak ada seorangpun yang menyambut. Dalam keadaan bingung, sang anak pun menangis sekencang-kencangnya. Ibu tersebut hanya melihat saja dari luar tanpa berbuat apapun.

Mendengar suara tangis yang begitu keras, manager restoran pun langsung keluar menghampiri.

"Nak, kenapa kamu menangis?" tanya manager itu dengan ramah.

"Oom, aku tadi ngambil tisu di toilet sampai habis, nih tisunya ada di tas aku semua…" ujar sang anak sesungukan sambil membuka tasnya.

Manager restoran tersebut terlihat kaget namun tak tahu harus berbuat apa.

"Sekarang aku udah tau kalo aku salah oom. Oom jangan marahin kakak yang ngebersihin toilet yah, mama bilang nanti kakak yang ngebersihin toilet sedih. Ini aku beliin satu kantong permen kesukaanku buat kakak pembersih toilet. Aku kasih ini boleh gak oom? Mama bilang ganti rugi juga gak apa-apa…" lanjut sang anak menjelaskan.

Sang manager akhirnya mengerti ketika melihat seorang wanita berdiri diluar memperhatikan mereka.

Manager ini pun berlutut dan berkata,"Baiklah, oom terima permintaan maaf kamu! Tapi gak boleh ngulangin lagi yah!"

"Makasih oom!" Ujar sang anak dengan mata berbinar-binar seakan bebannya telah lepas.

Anak itu kemudian belari menghampiri dan memeluk mamanya sambil berkata,"Ma, uang permennya nanti aku yang bayar pakai uang jajan aku yah!"

Ketika anak berbuat salah, orang tua biasanya mendidik dengan cara memarahi lalu masalah dianggap selesai. Namun sebenarnya hal tidaklah tepat! Ketika anak berbuat salah, orang tua bertugas untuk membuat anak sadar akan kesalahannya serta melatihnya untuk berani bertanggung jawab dan menyelesaikan sendiri masalahnya agar kelak ia tumbuh menjadi seseorang yang bertanggung jawab.

6 Tips mendidik anak

6 Tips Mendidik Anak yang di Contohkan Luqman Al-Hakim yang Sesuai Al-Qur’an Surah Al-Luqman Ayat 13-19

1.      Mengenalkan Tuhan Bahwa Tiada Tuhan Selain Alloh SWT

Seperti pesan Luqman terhadap anak-anaknya dalam surat Luqman ayat 13: 
“Dan (ingatlah)ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Alloh, sesungguhnya mempersekutukan (Alloh) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”.

2.      Mengajarkan Berbuat Baik Kepada Orang Tua
“ Birrul Walidain”

Seperti dalam surat Luqman ayat 14:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.
Pada ayat ini Alloh mengisahkan pembelajaran oleh Luqman terhadap anak-anaknya tentang keutamaan berbaktinya seorang anak karena kesusahan ayah dan ibunya saat anak masih dalam kandungan, terlebih ibu yang susah yang bertambah-tambah dan kita diwajibkan bersyukur kepada Alloh dan kedua orang tua dengan berbakti kepada keduanya. Berbakti kepada orang tua termasuk meminta izin terhadap apa yang ingin kita lakukan dalam skala makro, seperti ingin menikah, bekerja, maupun pindah ke tempat baru.

3.      Ketika Orang Tua Mengajarkan Berbuat Maksiat Kepada Allah Tidak Boleh Di Ikuti Keduanya.

Adapun pada ayatnya yaitu Luqman ayat 15:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
Poin yang terpenting di ayat ini adalah jika orang tua mengajak kepada kemaksiatan maka tidak boleh mengikuti, namun kita tetap berkewajiban bergaul dengan baik terhadap orang tua. Contoh terbaik untuk menggambarkan aplikasi ayat ini adalah kisah nabi Ibrahim ketika menasihati ayahnya yang pembuat patung untuk disembah oleh masyarakatnya, beliau tidak mengikuti langkah ayahnya dan tetap memberi nasihat dan berdiskusi dengan ayahnya mengenai perbuatan maksiat yang ayahnya lakukan. Mungkin kita sering bertanya, kenapa masih banyak anak yang perilakunya tidak baik,

4.      Mendidik Konsekuensi Terhadap Tingkah Laku Agar Tidak Sembarangan Dalam Melakukan Tindakan.

Dalam surat Luqman ayat 16:

“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Alloh akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Alloh Maha Halus lagi Maha Mengetahui”.
Dalam ayat ini terdapat konsep keimanan pada hari akhir. Dari konsep tersebut butuh dua pemahaman untuk menjalankannya dengan baik. Pertama adalah Ihsan, yaitu sikap muraqabatulloh di mana manusia itu berada, maka Alloh akan mengetahui apa yang dia lakukan maupun niat yang ada dalam hatinya. Kedua adalah tanggung jawab Ilahiyah, di mana seseorang harus bertanggung jawab akan tindakannya selama di dunia di hadapan Alloh kelak.

5.      Mengajarkan Amar Ma’ruf Nahi Mugkar Sehingga Menjadi Shalih/Sholihah

Terdapat dalam surat Luqman ayat 17:

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.
Kewajiban ini merupakan konsep tanggung jawab secara konstitusi antara Alloh dengan hamba-Nya yang bertaqwa. Konsep pertama yaitu, seorang hamba yang bertaqwa senantiasa melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, namun melakukan ini pada zaman sekarang butuh berjamaah karena selain godaan banyak tapi juga fitnah akan deras mengalir ke orang yang melakukan nahi munkar.
Kedua adalah sabar atas keadaan yang menimpa dirinya, rasa sabar inilah yang membuat manusia semakin tegar dalam menghadapi cobaan dalam mengimplementasikan ilmu yang dimiliki.

6.      Pendidikan Akidah Akhlaq7.      Ayat 18-19 Bukan Hanya Untuk Anak Akan Tetapi Untuk Kita Semua

Terdapat dalam ayat ke 18 dan 19,

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.
Sikap sombong di sini adalah merendahkan orang lain dan tidak mau mendengarkan kebenaran, alangkah kasihan orang tersebut karena Alloh akan mengazabnya dengan siksa yang pedih karena yang patut sombong hanya Alloh SWT.

Orang tua pendidik utama anak


SEHEBAT APAPUN SEKOLAH, TIDAK AKAN MAMPU MENGGANTIKAN PERAN ORTU SEBAGAI PENDIDIK UTAMA BAGI ANAKNYA

Oleh: Teguh Turwanto

"Ustadz, saya ingin hafalan Qur'an anak saya bagus", kata seorang ibu yang ingin memasukkan anaknya ke sekolah Khoiru Ummah. "Sudah sampai dimana hafalannya bu?", kata saya. "Sampai dimana ya? Maaf saya tidak terlalu memperhatikan, saya terlalu sibuk, ustadz", katanya sambil merasa bersalah.

Apa yang dialami ibu tersebut tentu dialami banyak orangtua saat ini. Mereka menganggap sekolah mampu menggantikan mereka sehingga menyerahkan begitu saja sepenuhnya kepada sekolah dan meninggalkan pendidikan anak dirumah

Tidak sedikit orangtua yang memasukkan anaknya ke sekolah yang elit dan mahal, menganggap keberadaan sekolah yang "profesional" tersebut mampu menjamin anaknya jadi cerdas dan sholeh, tanpa adanya usaha optimal dari orangtua dalam mendidik anaknya dirumah. Benarkah?

Mereka sepertinya lupa bahwa anak lebih dekat dengan orangtuanya dari pada yang lain, bahkan dari sejak anak di rahim ibunya. Setelah lahir, orangtuanyalah yang pertama kali ia kenal. Dan juga tidak bisa dipungkiri, ketergantungan mereka pada orangtua nya sangatlah tinggi saat ia belum mampu hidup mandiri. Anak lebih banyak hidup bersama orangtuanya dari pada yang lain.

Sehingga sangat wajar jika Islam menganggap orangtua adalah pendidik pertama dan utama bagi anaknya, sebagaimana Alloh SWT berfirman dalam
Q.S.al-Tahrim/66:6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (6)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Makna ayat tersebut menurut tafsir Qurtubi:
الأولى : قوله تعالى : { يابني أَقِمِ الصلاة } وصّى ابنه بعُظْم الطاعات وهي الصلاة والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر . وهذا إنما يريد به بعد أن يمتثل ذلك هو في نفسه ويزدجر عن المنكر

Maksud tafsir di atas adalah hendaklah orang tua menasehati anaknya agar taat kepada Alloh dengan menjalankan shalat serta amar ma’ruf nahi munkar.

Rasululloh SAW bersabda:

Setiap anak yang dilahirkan, ia dilahirkan dalam keadaan fitrah (kesucian), maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan ia sebagai seorang yahudi, hasrani atau majusi.” (HR. Al Bukhori)

Maka, sekolah tidak akan mampu menggantikan peran orangtua sebagai pendidik utama dan pertama bagi anaknya, kenapa? Karena perintah Alloh dalam mendidik anak dibebankan kepada orangtuanya, bukan kepada yang lain. Apalagi sekolah tidak boleh merubah fakta bahwa kasih sayang dan kedekatan antara orangtua dan anak haruslah lebih kuat sebagai bagian dari fitrah yang Alloh berikan kepada mereka.

Bagaimana peran sekolah dalam pendidikan anak? Ia berperan membantu orangtua dalam mendidik anaknya. Membantu orang lain dalam dalam hal kebaikan dan ketaqwaan adalah tugas yang mulia, sebagaimana Alloh SWT berfirman:

 وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya [al-Mâidah/5:2]

Bagaimana agar orangtua dan sekolah sama-sama berperan optimal dalam pendidikan anak? Maka kata kuncinya adalah sinergi.

Sekolah yang hebat adalah sekolah yang mampu mengarahkan orangtua agar menjadi pendidik utama bagi anaknya dan mensinergikannya dengan pendidikan di sekolah.

Ia tidak hanya berusaha optimal mendidik anak di sekolah tapi juga selalu mengingatkan orangtua jika lalai berperan sebagai pendidik anaknya di rumah. Ia juga membimbing orangtua dalam proses pendampingan anaknya dirumah dan memastikan agar pendidikan dirumah selalu bersinergi dengan pendidikan di sekolah.

Oleh karenanya, jika orangtua dan sekolah tidak bersinergi dalam mendidik anak di tengah lingkungan yang rusak ini, maka bebannya akan menjadi lebih berat. Maka sudah semestinya agar orangtua dan sekolah selalu bersinergi dalam pendidikan anak sehingga out put pendidikan anak bisa tercapai sesuai yang diharapkan, yaitu menjadi anak yang cerdas dan sholeh sehingga kedepannya mereka bisa menjadi pemimpin harapan dan dambaan umat, sebagaimana Alloh SWT berfirman:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan Jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” {Q.S. Al-furqon:74}.

Untuk itu melalui kegiatan Pemanduan ini mari kita bersama-sama, bahu membahu memaksimalkan potensi yang ada untuk memproses anak-anak kita melalui peran orang tua dan  guru menghantarkan mereka menjadi generasi impian penerus risalah untuk menggapai Ridho Alloh.
Aamiin ya robbal aalamiin...

Karena agama bukan warisan


Kemarin siang telah bersyahadat seorang Anak bernama Yogi Setiady, usianya baru 8 tahun, duduk di kelas 2 SDN 18 Sukabangun, Ketapang.

Yogi diantar sendiri oleh Eriyanti (44) ibu kandungnya yang masih beragama kristen ke KUA Delta Pawan dengan maksud mengantar anaknya bersyahadat, syahadat dibimbing ketua KUA Kecamatan Delta Pawa Syafi’ie dan disaksikan Eka Candra Sari guru sekolahnya (telepon : 0534 3036325)

Ayah dan Ibunya telah mengikhlaskan anak tsb utk memeluk Islam, karena setiap saat terus-menerus "memaksa" Ayah dan Ibunya agar dia diijinkan masuk Islam.

Yogi rajin ke surau setiap Shalat lima waktu, belajar mengaji dan Sholat.

Ketika di tes soal ngajinya, Yogi sudah hafal surah Al Fatihah, Al Ikhlas, An Nas, Al Falaq, Ayat Kursi, do'a untuk orang tua, do'a makan, dan lain sebagainya.

Ditanya cita-citanya, dengan tegas Yogi menjawab ingin menjadi Ustadz.

Pembacaan dua kalimat syahadat yg disaksikan oleh guru sekolahnya berlangsung sempurna karena Yogi memang sudah hafal syahadat bahkan tahu dengan artinya.

Ibu Yogi menceritakan kisah Yogi:

Sejak kecil ketika baru pandai berbicara Yogi memang suka pada hal-hal terkait Islam. Misalnya ketika melihat Masjid menurutnya Yogi pasti senang dan selalu menyebut ada alaaba. “Maksudnya itu Allohu Akbar,” tuturnya.

Sedangkan ketika diajak ke gereja Yogi selalu menolak, menangis dan ngajak keluar mau pulang.

Kemudian ketika dibawanya pulang ke kampung halamannya di hulu yang banyak anjing dan babi Yogi juga tidak suka dan takut tersentuh anjing atau babi.

Bahkan ketika mereka makan daging babi tapi Yogi sejak kecil pun tidak pernah mau makan babi. Namun ketika ada tetangganya di Ketapang ada acara seperti selamatan. Maka Yogi selalu mengajaknya untuk pergi ke acara tersebut.
“Katanya ayo ma kita pergi ke tempat orang amin-amin. Saya tanya di mana, katanya itu menunjukkan tempatnya, ternyata tempat orang Muslim selamatan gitu,” kenangnya.

Kemudian ketika awal Yogi masuk sekolah menurutnya Yogi beberapa kali diberi tahu gurunya agar ke luar kelas. Lantaran Yogi ketika itu bukan beragama Islam. “Tapi Yogi itu tak mau keluar malah mau belajar Agama Islam,”

Yogi juga sering meminta izin kepadanya untuk ikut teman-temannya mengaji dan solat.

Lantaran merasa berbeda keyakinan ia awalnya melarang Yogi.

“Saya bilang tak boleh, kita kan beda, tak sama, saya bilang gitu,” ungkapnya.“

Tapi Yogi bilang mau ikut Islam saja. Di rumah ini kan ada handuk sering dibuatnya alas untuk sajadah, dia belajar sembahyang sendiri. Bahkan dia selalu mengajak teman-temannya seperti solat di rumah ini dan dia imamnya,” tuturnya, kejadian itu pernah juga direkam abang Yogi.

Kemudian ketika masih kelas satu SD Yogi juga selalu menghilang dari rumahnya, sore menjelang Magrib dan siang Jumat.

“Pas Jumat tak sengaja melihat seperti Yogi pakai kopiah dan baju koko,” jelasnya.

“Ternyata benar dan ketika pulang saya tanya dari mana, katanya dari masjid. Rupanya dia minjam baju kawannya untuk Solat Jumat. Saya bilang benar-benar Yogi, nanti kamu masuk Islam, dijawabnya dia memang mau masuk Islam,” lanjutnya.

Di sekolah pun tak mau belajar agama kami, dia hanya mau belajar pas pelajaran agama Islam,” tambahnya.

Kemudian pernah juga tetangganya mengatakan kalau Yogi menghilang sore maka degar saja di Surau. Jika ada suara orang ngaji dan salawat itu adalah Yogi.

Ia menambahkan hingga belum lama ini Yogi memaksa minta disunat dan disahkan untuk memeluk agama Islam.
“Jadi kita orangtua mengikhlaskannya. Hanya saya berharap setelah anak saya masuk Islam begini,” tegasnya.
“Maka ia harus dibimbing dengan sebenar-benarnya untuk memperlajari agama Islam. Jangan nanti malam dilepas dan dibiarkan begitu saja,” harapnya mendampingi Yogi.

Yogi menegaskan masuk Islam karena memang keinginan sendiri.
Bahkan sebelumnya ia sering belajar tentang Islam secara sendiri. Ia menegaskan masuk Islam karena ingin masuk surga nantinya.
Di hadapan awak media ketika ia diminta melantunkan ayat Alquran dan doa dalam Islam.

Ia pun langsung melakukannya tanpa teks.
Ternyata ia sudah cukup banyak hafal ayat Alquran dan doa dalam Islam.

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِوَكِيلٍ

Katakanlah, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (al-Qur’ân) dari Robbmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa sesat maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.” (QS. Yunus 108)

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Bukan kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetepi Alloh-lah yang memberi petunjuk(memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-nya. (QS. Al Baqarah 272)

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki. (QS. Al Qashash 56)

وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ ۚ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, “Apakah kamu mau masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Alloh) dan Alloh maha melihat akan hamba-hambanya.” (QS. Ali Imran 20)

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

Barangsiapa Alloh kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki kesesatannya, niscaya Alloh menjadikan dadanya sesak lagi sempit seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. (QS. Al An’aam 125)

Semoga Alloh merahmati dan terus memberikan hidayah kepada anak ini..

Kembali Alloh buktikan kejayaan dan kemenangan Islam adalah hal yang pasti karena janji Alloh Azza wa Jalla:

ليبلغن هذا الأمر ما بلغ اليل و النهار ولا يترك الله بيت مدر ولا وبر إلا أدخله الله هذا الدين بعز عزيز أو بذل ذليل عز يعز الله به الإسلام وذل يذل الله به الكفر

Islam pasti akan mencapai wilayah yang diliputi siang dan malam. Alloh tidak akan membiarkan rumah yang megah maupun yang sederhana, melainkan akan memasukkan agama ini ke dalamnya, dengan memuliakan orang-orang yang mulia dan menginakan orang-orang yang hina. Mulia karena Alloh memuliakannya dengan Islam. Hina karena Alloh menghinakannya akibat kekafirannya. (HR. Ahmad)

Mari kita memohon kepada Alloh adalah agar kita semua tidak mati kecuali dalam keadaan muslim.

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Alloh, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allohlah mereka dikembalikan. (QS.Ali Imran 83)

تَوَفَّنِي مُسْلِماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh. (QS.Yusuf 101)

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ

Sesungguhnya pelindungku ialah Alloh Yang telah menurunkan Al Quran. (QS. Al. A'raf 196)

اَللّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِاْلاِسْلاَمِ وَاخْتِمْ لَنَا بِاْلاِيْمَانِ وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ

الله أكبر‎ الله أكبر‎ الله أكبر

Solusi bagi anak yang sudah terpapar Jinsiyyah


Apakah anak-anak sudah memiliki naluri seksual? Tentu sudah karena Allah ciptakan naluri ini sejak manusia itu lahir. Naluri ini salah satu penampakan naluri naw'u ( Naluri Melestarikan Keturunan). Naluri Naw'u adalah potensi hidup karenanya manusia bisa hidup dan lestari keturunanya di muka bumi ini hingga hari kiamat. Naluri inipun sangat sensitif dari kepunahan manusia, makanya menuntut untuk dipenuhi.

Naluri seks (gharizah jinsiyyah) pernah saya sampaikan tidaklah identik dengan naluri naw'u, karena fenomena naluri naw'u juga diwujudkan dalam bentuk rasa keibuan, rasa kebapaan, anak sayang ibu, ibu sayang anak, adik sayang abang, abang sayang adik, empati pada sesama manusia dll.,  jadi tidak melulu wujudnya seksual.

Pada dasarnya naluri seks itu karakternya seperti ini

1. Tergantung rangsangan

Sebagaimana halnya rasa keibuan walau dia seorang wanita tetap saja harus dirangsang jika wanita tadi hendak mencurahkan kasih sayang yang seluas-luasnya pada anaknya, bisa dengan pemikiran-pemikiran tentang posisi anak, amanah dan tanggung jawab pada anak, visi kita tentang anak, anak adalah cahaya mata kita dll. Bisa juga dengan melihat keluarga-keluarga bahagia yang sangat menyayangi dan mencintai anak-anak mereka.

Pun naluri seksual jika sudah dirangsang sedini mungkin dengan menyaksikan pornografi, video porno dan tidak memiliki rasa malu menampakkan aurat dan melihat aurat, atau seringkali melihat orang tua melakukan porno di depan anak dll. Inilah yang membuat jinsiyyah anak terbangkitkan lebih matang sementara akalnya tidak cukup cerdas dengan tsaqafah islam sehingga tidak bisa menilai mana yang haram dan mana yang halal.

Maka solusi dalam hal ini membuang semua rangsangan yang ada dan menjauhkannya dari anak, misal gsdget yang ada pornonya, TV yang mengumbar aurat, teman bermain yang jadi ancaman, bahkan di lingkungan keluarga besar dsb.

Jika setelah dijauhkan anak dari rangsangan, ada kemungkinan anak tetap menuntut utk dipenuhi maka akan gelisah, maka anak akan banyak permintaan dan cari strategi utk memenuhi ini. Dalam kondisi inilah ayah ibu harus peka dan waspada serta bangun komunikasi yang baik sehingga anak terbuka. Katakan padanya bahwa kegelisahan ini hanya sesaat dan tidak mematikan.

2. Tuntutan pemuasannya tidak pasti, hanya menggelisahkan

Anak akan gelisah ketika rangsangan itu semakin besar sementara pemenuhannya tidak ada, maka anak akan cari cara bagaimana dapat memenuhi lazzah seksualnya, maka tentu orang-orang terdekat menjadi sasaran. Maka disini pula pentingnya mengikatkan anak dengan syariah islam dengan ketat dan tarkiz aqidah islam yang senantiasa dijaga oleh orang tua.

Tancapkan Tsaqafah Islam tentang menundukkan pandangan, batasan aurat, berpakaian syar'i, berpisah kasur, tidak satu selimut, tiga waktu awrat, interaksi lawan jenis. Pun senantiasa menjaga suasana keimanan dalam keluarga dalam taqarrub pada Allah swt.

3. Sangat bisa dialihkan seperti ke naluri tadayyun atau ke naluri baqa

Pengalihan sangat memungkinkan dengan memenuhi naluri tadayyun, semisal hadir di majelis ibadah, majelis ilmu, majelis tsaqafah Islam khusus tsaqafah ijtimaiyyah dll. Dekatkan anak dg ulama, ustadz yg dapat kita percaya dan dekat anak dengan teman-teman yang membawanya kepada taqwa.

Bisa juga ikut kegiatan-kegiatan kepemimpinan, penelitian, jelazah alam dll namun tetap mempertimbangkan lingkungan pertemanan harus dipastikan adalah orang-orang yang terpercaya.

Dahsyatnya kata-kata baik dalam pengasuhan


Rasanya saya harus belajar banyak lagi dari Chris Ulmer.
Seorang guru untuk anak-anak special need (berkebutuhan khusus) di Mainspring Academy di Jacksonville Florida.

Bayangkan, kalau anak-anak spesial need saja yang diagnosisnya berkisar antara autisme bahkan sampai yang jenisnya cedera otak traumatis (traumatic brain injury), apraxia bicara (speech apraxia), dan sebagainya mengalami perubahan yang signifikan hanya karena kata-kata positif, apalagi anak-anak normal..

Apa yang dilakukan Ulmer sebenarnya sederhana.
Setiap hari selama 2 pekan, Ulmer hanya menyempatkan diri untuk memberikan kata-kata positif ataupun pujian kepada masing-masing dari mereka,
seperti misalnya;
 saya suka kamu ada di kelas saya”,
“kamu sangat lucu”, “kamu hebat”,
“Semua orang suka sama kamu”,
“kamu pemain sepak bola yang hebat”, dan lain sebagainya.
Anak-anak tersebut hanya diminta untuk menerima dan mengakuinya dengan mengatakan “Yes” setiap kali Ulmer memberikan kata-kata positif.

Setelah 2 pekan Ulmer melakukannya, apa yang terjadi?
Para siswa satu sama lainnya menjadi saling memuji dan berkata-kata positif secara konsisten, mereka saling menghargai prestasi yang dicapai temannya, seolah-olah itu prestasi yang juga mereka raih, dan mereka tidak mencemooh satu sama lainnya tetapi malah saling membantu.

Kata-kata memang sungguh ajaib.
Ulmer bukan satu-satunya orang yang membuktikan dahsyatnya kata-kata baik.
Masaru Emoto, seorang peneliti dari Hado Institute di Tokyo Jepang pun pernah meneliti tentang dampak kata-kata positif yang merubah struktur air menjadi baik.

Anak-anak kita memang butuh kata-kata positif untuk MENJADI DIRINYA sesuai dengan *FITRAHNYA.*
Sayangnya, sebuah penelitian menunjukkan bahwa rata-rata anak-anak dalam sehari mendapatkan 450 kata-kata negatif dan hanya 70 kata-kata positif. Inilah yang membuat mereka bingung dengan dirinya, dan tidak percaya akan kemampuan yang dimilikinya.
 Justru kata-kata negatif itu yang malah membentuk dirinya, karena secara neurologi semua informasi yang didengar secara berulang-ulang akan membentuk struktur berpikir, merubah struktur otak dan membentuk struktur kepribadian. Kalau yang masuk kebanyakan kata-kata negatif, apa jadinya pribadi anak-anak kita?

Merujuk pada panduan hidup kita, Allah meminta kita untuk tidak meninggalkan generasi kita dalam keadaan lemah.
Pada potongan ayat terakhir, Allah memberikan kuncinya dengan 2 hal, yaitu; Taqwa kepada Allah dan berkata-kata baik dan benar dengan cara yang benar (QS. An Nisa 9). Dalam ayat lainnya, Allah juga mengumpamakan bahwa, kata-kata baik itu seperti pohon yang baik, akarnya menghujam ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit (QS Ibrahim: 24).
Kalau boleh diumpamakan, itulah sosok generasi dengan konsep diri positif.
Tidak mudah terombang-ambil meski zaman semakin menantang, karena memiliki jiwa yang kokoh.

Dari tulisan singkat ini, sepakatkah kita bahwa kata-kata baik sangat penting dalam pengasuhan dan pendidikan?
Hanya kata-kata baik. Rasanya tidak susah kan?
Jadi, tunggu apalagi? Mari mulai berkata-kata baik atau diam...

Selamat mengasuh dengan penuh cinta...
 
Copyright © 2013 Belajar Takwa
Design by FBTemplates | BTT