Indahnya Saling Nasehat-Menasehati

Indahnya Saling Nasehat-Menasehati
BREAKING

Rabu, 08 Agustus 2018

Belajar Taqwa Kepada Sahabat Rosululloh, Ali bin Abi Thalib rodiyallohu anhu


Semoga ALLOH subhanahu wa ta'ala snantiasa memberikan tuntunannya kepada kita semua...
Serta kita snantiasa hidup dalam ridho Nya baik di Dunia hingga di Akhirat.

Mari Kita Belajar Taqwa Kepada Sahabat Rosululloh, Ali bin Abi Thalib rodiyallohu anhu

Setelah masuk Dien Islam, Ali bin Abi Thalib memiliki kpribadian yang begitu loyal terhadap segala yang berkaitan dengan kpentingan Dien Islam..
Ali bin Abi Thalib ra merupakan salah satu dari empat sahabat utama Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam.

Sifat kepribadian yang Patut kita contoh dari sahabat Ali bin Abi Thalib rodiyallohu anhu adalah:

1. Pemberani
Ali merupakan sosok yang sangat pemberani.
Di usia yang sangat muda Ali sudah mengikuti perang bersama Rosululloh baik di perang Badar dan Uhud.
Ali bagikan elang ganas yang menyerang ke dalam kepungan musuh tanpa ada rasa takut.
Ali juga yang selalu mewakili dari Kaum Muslimin untuk duel melawan kaum Kafir sebelum dimulainya peperangan.

2. Cerdas
Ali merupakan sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dari Rosululloh baik perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi.
Sayyidina Ali mempunyai kemampuan kuat hapalannya serta beliau juga salah satu sahabat yang hafal al-Qur'an.

3. Berwawasan Luas
Ali merupakan orang yang pintar dan cerdik.
Kepintaran ali pernah disampaikan dan dipuji Rosululloh.
Dalam sebuah hadits Rosululloh bersabda:
"Aku adalah Kotanya Ilmu dan Ali ialah Pintunya.
Dan tidak lah bisa apabila ingin memasuki kota tanpa melewati pintunya".

4. seorang yang zuhud.
Ali bin Abu Thalib tak sedikit pun terpesona dan terlena dengan kehidupan dunia.
Ia benar-benar mengatahui hakikat kehidupan yang sebenarnya.
Oleh karena itu, ia mampu mengendalikan perhiasan dunia yang begitu menggoda.
Itulah cahaya kezuhudan yang tertanam dalam jiwanya.

Ketika memangku jabatan khalifah, ia diminta untuk tinggal di istana Negara sebagai Amirul Mukminin.
Sebuah gedung yang tinggi, sangat indah, megah dan mempesona. Ketika melihatnya, secara spontan ia berpaling ke belakang seraya berkata:
“..... Aku tidak sudi tinggal di dalamnya untuk selama-lamanya!”

Begitulah, beliau menolak untuk tinggal di istana.
Beliau tetap tingga di rumahnya yang sangat sederhana sampai berpisah dengan dunia.

Kekhalifahan tidak lah menambah kemuliaannya, justru beliau yang memperindah kekhalifahan dengan keadilan, zuhud, dan ilmunya.
Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Ahmad bin Hambal: “Sesungguhnya kekhalifahan tidaklah menghiasi Ali, justru beliaulah yang menghiasiasi kekhalifahan tersebut.”

5. Sifatnya yang Rendah Hati.
Ali bin Abu Thalib pernah membeli kurma dengan harga satu dirham, maka ia menjinjingnya sendiri. Kemudian banyak orang yang menawarkan diri untuk membantunya.
Maka, Ali berkata:
“Tidak! Seorang kepala keluarga lebih berhak untuk membawanya sendiri.” (HR. Ahmad)

Allohu Akbar...
betapa tingginya sifatnya.
Betapa jelas sikap kelembutan pada rakyatnya.
Ialah Amirul Mukminin yang menjinjing belanjaannya sendiri, berjalan di pasar bersama rakyatnya, tidak ridho atas bantuan orang yang menawarkan bantuannya, sebab ia merasa mampu dan tidak membutuhkan bantuan tersebut.

Sifat rendah hatinya ini didasari oleh keyakinannya pada urgensi dari akhlak tersebut.
Ia yakin bahwa sikap rendah hati akan mempengaruhi masyarakat sekitar sehingga mereka pun merasa senang dan bahagia hidup bersama.
Bahkan, inilah satu sikap yang diperintahkan oleh ALLOH kepada Rosul-Nya, Nabi Muhammad saw.

ALLOH SWT berfirman:
dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.
Q.S. Asy-Syu'ara (26)/215

6. Bersikap Bijaksana.
Sudah diketahui bahwa Ali bin Abu Thalib memiliki sikap yang tegar dan kuat pendirian dalam membela kebenaran.
Setelah dipilih menjadi khalifah, ia cepat mengambil tindakan dengan segera mengambil perintah yang menunjukkan ketegasan sikapnya, di antaranya:
a. Memecat beberapa gubernur yang pernah diangkat oleh Utsman bin Affan yang berasal dari Bani Umayah.
Sebab, menurut ijtihad Ali bin Abu Thalib mereka adalah penyebab terjadinya fitnah dan kerusuhan.
b. Mengembalikan tanah-tanah dan hibah dalam jumlah yang sangat besar kepada para pemilik tanah sebelumnya.

7. Bersikap Adil walaupun kepada Musuh.
Ashim bin Kulaib pernah meriwayatkan tentang keadilannya tentang anak-anaknya.
Ia berkata:
“Pada suatu hari, Ali bin Abu Thalib datang dari Ashbahan membawa harta, maka ia membagi harta itu menjadi tujuh bagian.
Kemudian ia pun membagi rotinya menjadi tujuh bagian sebagaimana ia membagi hartanya.
Kemudian mengundi ketujuh anaknya tersebut, siapa pun nama mereka yang keluar, maka akan mendapatkan bagian untuk pertama kali.”

Akhlak Ali bin Abu Thalib sangat luas, sampai-sampai mencakup pada orang-orang yang sangat memusuhinya, bahkan yang sangat membahayakannya sekalipun, yaitu Abdurrahman bin Muljam yang telah menikamnya.
Amirul mukminin telah memerintahkan kepada anaknya untuk berbuat baik kepadanya, memberikan makanan dan minuman yang baik serta tidak memotong mayatnya jika dihukum mati.
Ia mengatakan kepada mereka tentang Abdurrahman bin Muljam:
“Sesungguhnya ia adalah tawanan, maka baguskanlah jamuannya dan muliakanlah tempatnya.
Jika aku hidup, maka aku akan membunuhnya atau memaafkannya.
Jika aku mati, maka bunuhlah ia dan janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya ALLOH tidak menyukai orang-orang yeng melampaui batas.”
 (HR. Ahmad)

Itulah sifat keteladanan dari pribadi sahabat Ali bin Abi Thalib yang bisa kita contoh dalam hidup kita.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dan manfaatnya.

Senin, 06 Agustus 2018

Al-Qoyyum - Yang Maha Berdiri Sendiri


Semoga ALLOH SWT senantiasa memberi hidup dan kehidupan yang baik dan diridhoi-Nya...
Dan jika mati...
Kita mati dalam keadaan khusnul khotimah...

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

*Al-Qoyyum*
Yang Maha Berdiri Sendiri

ALLOH SWT berfirman:

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ

ALLOH, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.
Kepunyaan-Nya apa yang di Langit dan di Bumi.
Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi ALLOH tanpa izin-Nya
ALLOH mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu ALLOH melainkan apa yang dihendaki-Nya.
Dan kursi ALLOH meliputi Langit dan Bumi
Dan tidak merasa berat memelihara keduanya, dan ALLOH Maha Tinggi lagi Maha Besar.
QS. Al-Baqarah (2)/225

Al-Qayyum artinya ALLOH berdiri sendiri dalam mengatur segala sesuatu, menjaganya, dan memberinya rezeki.
ALLOH Al Qoyyum tidak penah lemah, tidak pernah letih, tidak pernah butuh, tidak pernah istirahat, tidak pernah lalai walau sesaat pun, tidak penah ngantuk, dan tidak pernah tidur.

ALLOH SWT berfirman:
“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan.”
Q.S. Qaf (50)/38

Sifat ALLOH AL Qoyyum menunjukkan Kesempurnaan ketidakbutuhan-Nya dan kebesaran-Nya.
Dia yang berdiri sendiri dan tidak membutuhkan seluruh makhluk, sehingga tidak butuh sesuatu pun, baik dalam hal adanya maupun dalam hal eksistensinya.
Demikian pula dalam sifat kesempurnaan-Nya dan perbuatan yang muncul dari-Nya.
Karena ketidakbutuhan-Nya bersifat dzati, Dia tidak akan ditimpa kekurangan ataupun rasa butuh.
ALLOH berdiri sendiri dengan sifat kemuliaan-Nya dan tidak bergantung pada satu pun makhluk-Nya.
ALLOH yang mengatur Bumi dan Langit serta segala makhluk di dalamnya.
ALLOH tidak butuh pada makhluk, bahkan makhluk yang butuh pada-Nya.
Konsekuensi dari nama ALLOH Al-Qayyum, ALLOH itu berdiri sendiri.
ALLOH juga mengatur setiap makhluk-Nya.
ALLOH yang mengatur rezeki mereka.
ALLOH yang mengatur urusan mereka, dan ALLOH akan mengumpulkan dan menghisab mereka pada hari kiamat.

Seluruh sifat kesempurnaan dalam perbuatan-Nya yang tidak ada kesempurnaan bagi-Nya kecuali dengan sifat Al-Qayyum.
Dialah yang selalu mengatur mahluk-Nya.
Seluruh yang ada di Alam ini membutuhkan-Nya, tidak mungkin tidak, walau sesaat saja, makhluk lah yang butuh kepada-Nya dalam hal keberadaannya, ALLOH ‘Azza wa Jalla lah yang memberikan kepadanya sebab-sebab eksistensinya, tidak ada sesuatu pun dalam alam ini seluruhnya kecuali dalam bantuan-Nya.
ALLOH Yang mengurus segala perkara atau urusan  makhluk-Nya.
Dialah yang berdiri sendiri, agung sifat-Nya, dan tidak memerlukan apapun dari makhluk-Nya.

Menegakkan bumi, langit, dan segala makhluk yang ada di antara keduanya.
Dialah yang mengadakannya dan menolongnya serta menyiapkan bagi segala sesuatu yang membuat makhluk tetap ada di Bumi.

ALLOH SWT berfirman:
“Sesungguhnya ALLOH menahan Langit dan Bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain ALLOH.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”
QS. Fathir (35)/41

Dia-lah Yang Maha Kaya dari semua makhluk secara mutlak dan merekalah yang berhajat kepada-Nya secara mutlak.

ALLOH SWT berfirman:
“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”
Q.S. Ar-Rahman (55)/29

Dia selalu mengatur dan memerhatikan urusan makhluk-Nya, tidak mungkin Dia lalai sesaat pun dari mengawasi mereka, kalau tidak demikian maka akan kacau aturan alam dan akan hancur tonggak-tonggaknya.

ALLOH ‘Azza wa Jalla berfirman:
Katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (ALLOH) Yang Maha Pemurah?”
Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Robb mereka.
QS. Al-Anbiya (21)/42

Semoga kita dapat mengambil hikmah dan manfaatnya...

Kamis, 02 Agustus 2018

Ma'rifatul Insan


"Man arofa nafsahu arofa robbahu"
(Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal siapa penciptanya)

I. Prinsip Penciptaan Manusia
Allah SWT berfirman dalam QS. Al Insan :1
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut.”(QS. 76:1)
Allah SWT berfirman dalam QS. Maryam :67
“Dan tidaklah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu sedang ia tidak ada sama sekali.” ( QS. 19:6)

Kedua ayat diatas dimulai dengan kalimat istifham, yang menuntut perhatian supaya manusia memikirkan diri dan proses kejadiannya,sehingga dengan itu, ia akan berlaku dengan benar dalam kehidupan didunia ini sesuai dengan fungsi dan tujuan penciptaannya.

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Pada mulanya ia adalah bukan apa-apa, tidak ada, tidak wujud, dan tidak berbentuk. Kemudian atas Kehendak-Nya, ia diciptakan. Ihwal penciptaan manusia ini menunjukkan kemaha kuasaan Allah. Hal ini haru smenjadi renungan manusia, betapa tanpa kekuasaan-Nya, manusia bukanlah apa-apa.

II. Proses Penciptaan Manusia
Dalam proses penciptaan manusia terdapat dua proses, yaitu proses azali dan proses alami
A. Proses Azali
Proses azali adalah proses penciptaan manusia dimana peran ke-Maha Kun Fayakun-an Allah terjadi tidak ada sedikit pun campur tangan manusia. Seperti penciptaan Adam dari tanah liatyag dibentuk. Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam. Dan Isa Al Masih yang diciptakan tanpa seorang ayah.
Hal tersebut sebagaimana dinyatakan dalam QS. Al Hijr : 26, An Nisa’ : 1, dan QS. Ali Imron : 59
“ Dan sesungguhnya Kami menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. ( QS. 15 : 26 )
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.” ( QS. 4 : 1 )


“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, Kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), Maka jadilah Dia.” ( QS. 3 : 59 )

B. Proses Alami
Proses alami adalah proses kejadian manusia setelah Adam dan Hawa kecuali Isa as, yaitu harus ada hubungan antara laki-laki dan perempua, bertemunya sel sperma dan telur dalam rahim perempuan.Dalam rahim seorang ibu ia dibentuk melalui beberapa tahapan dan dalam waktu yang telah ditetapkan,
Kemudian setelah sempurna kejadiannya, ia dilahirkan keatas dunis sebagai seorang bayi, lalu Allah tumbuhkan ia menjadi dewasa dan tua, kemudian Allah wafatkan.
Perhatikan firman Allah SWT dalam QS. Al Mu’minun : 12-16
“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, Sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat”.
( QS. 23 : 12-16 )

III. Bahan dan Isi Dasar Manusia
A. Bahan Dasar
Bahan dasar manusia adalah tanah yang tidak berharga, sebagai mana diterangkan dalam QS. As Sajadah :7-8

“Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.Kemudian dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.” ( QS. 32 : 7-8 )

Seorang manusia yang gagah perkasa, tampan dan cantik rupawan hanyalah berbahan dasar tanah liat yang merupakan bahan terendah dan kurang berharga. Bila manusia mau memperhatikan asal kejadian ini , maka ia tidak akan pernah menyombongkan diri menentang dan mendurhakai Allah penciptannya.


B. Isi Dasar
Dari bahan dasar yang sangat rendah tersebut, kemudian Allah mengisi dengan sesuatu yang sangat tinggi nilainya yaitu ruh ciptaan-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Sajdah : 9

“Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Dengan demikian manusia memiliki hubungan yang sangat dekat sekali dengan Allah karena manusia
diberi ruh ciptaan-Nya.

Dari dua asal yang sangat berbeda tersebut menunjukkan dua hal yang berbeda. Jasad manusia yang diciptakan dari bahan dasar tanah,maka ia memiliki kecenderungan yang kuat pada tanah, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam QS. Ali Imron : 14
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). ( QS. 4: 14 )

Sedangkan ruh ( jiwa ) yang berasal dari Allah, maka ia juga memiliki kecenderungan dan kebutuhan kepada petunjuk Allah yaitu Ad Dien, jalan menuju taqwa. Perhatikan firman Allah dalam QS. Ali imran :

“Katakanlah: "Inginkah Aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.”

IV. Potensi dasar Manusia
Allah menciptakan manusia dengan memberikan kelebihan dan keutamaan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Kelebihan dan keutamaan itu berupa potensi dasar yang disertakan Allah atanya, baik potensi internal (yang terdapat dalam dirinya) maupun potensi eksternal (potensi yang disertakan Allah untuk membimbingnya). Potensi ini adalah modal utama bagi manusia untuk menjalankan tugas dan memikul tanggung jawabnya. Oleh karena itu ia harus diolah dan didayagunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga ia dapat menunaikan tugas dan tanggung jawab dengan sempurna.
A. Potensi internal
Potensi internal adalah potensi yang menyatu dalam diri manusia sendiri. Potensi ini terdiri dari:
1. Potensi Fitriyah
Manusia diberikan Allah potensi fitriyah. Makna fitri adalah Al-Islam, sebagaimana dijelaskan dalam ayat dan hadist berikut ini. Perhatikan firman Allah dalam QS. Ar Ruum : 30

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, (itulah0 ama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” ( QS. 30:30 )

Berkenaan dengan ayat tersebut Rosulullah bersabda :
“ Dari Abu Hurairah ra. Bersabda Rasulullah SAW., “ Tiada bayi yang dilahirakan kecuali lahir dalam keadaan fitrah. Maka ayah bundanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana lahirnya binatanga yang lengkap sempurna. Apakah ada binatang yang lahir terputus telinganya? Kemudian Abu Hurairah membaca, “ Ftrah Allah yang telah mencip[takjan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus.” ( HR. Mutafaqun ‘Alaih )

Dengan demikian, pada diri manusia sudah melekat (menyatu) satu potensi lantaran Dienullah. Kalau ia gunakan potensi ini, ia akan senantias berjalan diatas jalan yang lurus, karena Allah membimbingnya semenjak dalam ruh (kandungan). Perhatikana firman Allah dalam QS. Al A’raf : 172
“ Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)", ( QS. 7 : 172)

2. Potensi Ruhiyah
Potensi ruhiyah adalah potensi yang dilekatkan pada hati nuraniuntuk membedakan dan memilih jalan yang haq dan yang batil, jalan menuju ketaqwaan dan jalan menuju kedurhakaan.
Allah berfirman dalam QS. Asy Syam : 7-8
“ Dan jiwa serta penyempurnaanya (citaanya), maka Allah mengilhamkan kepad jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan.” ( Qs. 91 : 7-8)

Didalam hati setiap manusi telah tertanam potensi ini, yang dapat membedakan jalan kebaikan (kebenaran) dan jalan keburukan (keselahan). Dari kemampuan ini Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : “Wabishah bin Ma’bab berkata : “saya datang kepada Nabi SAW untuk bertanya tentang bakti ( al-birri). Maka sebelum saya bertanya Nabi bertanya, “ kau datang untuk bertanya tentang bakti? Jawabku : ya. Bersabda Nabi SAW, “tanyakan pada hatimu. Bakti itu adalah pernuatan yang menimbulkan ketenangan dalam hati dan jiwa. Sedangkan dosa itu adalah perbuatan yang menimbulkan keraguan dalam hati dan jiwa. Meskipun telah mewndapat fatwa dari orang.”

Hadist tersebut mewnunjukkan bahwa potensi ruhuyah inilah yang menentukan arah kehidupoan manusia.
3. Potensi Aqliyah
Potensi aqliyah terdiri dari panca indra dan akal [pikiran ( sama’, bashor, dan fu’ad). Dengan potensi ini manusia dapat membuktikan dengan daya nalara dan ilmiah tentang kekuasaan Allah. Dengan potensi ini pulalah manusia dapat mempelajari dan memahami dengan benar seluruh hyal yang bermanfa\at baginya, yang tentu harus diterima dan hal ayng madhorat baginya yang tentu harus dihindari.
Allah berfirman dalam QS. An Nahl : 78
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur” ( QS. 16 : 78 )

Potensi inilah yang diminta pertanggung jawaban oleh Allah. Dalam hal ini Allah berfirman dalam QS. Al Isra’ : 36
“Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yan gkmau tidak mengetahui pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggung jawaban.”
( QS. 17 : 36 )

Manusia yang tidak menggunakan potensi ini, maka sungguh ia telah menyia-nyiskan kelebihan dan keutamaan yang Allah berikan, sehingga tidak pantas mendapat fadhal di sisi Allah, tetapi ia sama dengan makhluk yang terendah yaitu binatang ternak bahkan lebih hina lagi.

Allah berfirman dalam QS. Al A’raf : 179
“Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka jahanam itu kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak, bahakn mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. ( QS. 7 : 179)

4. Potensi Jasmnani
Potensi jasmani yaitu kemampuan tubuh manusi yang telah Allah ciptakan denga sempurna, baik rupa, kekuatan maupun kemampuan.
Allah berfirman dalam QS. At Tin : 4
“Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” ( QS. 95 : 4)

Allah juga berfirman dalam QS. AL Taghabun : 3
“Dia menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, Dia menciptakan rupamu dan dibaguskan-Nya rupoamu itu, dan hanya kepada-Nyalah kamu kembali(mu)” ( QS. 64 : 3)
Potensi jasmaniah ini adalah merupakan basthoh fil khalqi (fil jism). Sebagi modal utama manusia untuk melaksanakan tugasnya.

B. Potensi Eksternal
Disamping potensi internal yang melekat erat pada diri manusia, Allah juga menyertakan potensi eksternal sebagi pengarah dan pembimbing potensi-potensi internal itu agar berjalan sesuai dengan kehndak-Nya. Tanpa arahan potensi eksternal ini, maka potensi internal tidak akan memebuahkan hasil yang diharapkan.
1. Potensi Huda
Yaitu petunjuk Allah yang mempertewgas nilai kebenarean yanh Allah turunkan kepada Rosul-Nya untuk membimbing masnusia kejalan yang lurus.
Allah juga berfirman dalam QS. Al Insan : 3
“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada yang kafir.” ( QS. 76 :3 )

Allah juga berfirman dalam QS. Al Baqarah : 38
“Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu ! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

2. Potensi Alam
Alam semesta adalah merupakan eksteranal kedua untuk membimbing umat manusia melaksanakan fungsinya. Setiap sisi alam semesta ini merupakan ayat-ayat Allah yang dengannya manusia dapat mencapai kebenaran.
Allah berfirman dalam QS. Ali Imran : 190-191
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siangterdapat tanda-tanda bgi orang-orang yang berakal. (yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka menmikirkan tentang penciptaan langit dan bumi ( seraya berkata) :”Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka.” ( QS. 3 :190-191)

Allah juga berfirman dalam QS. Al Baqarah : 21-22
“ Hai manusia, sembahlah Tuhanmu ayng telah menciptakan kamu dan orang-orangsebelum kamu, agar kamu bertaqwa. Dia lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lal Dia menghasilkan dari air hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal akmu mengetahui” ( QS. 2: 21-22 )
V. Tujuan penciptaan manusia.
Allah SWT telah menegaskan bahwa, Ia menciptakan manusia tidaklah dengan main-main tetapi dengan tujuan yang haq. Dengan diberi tugas dan kewajiban yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Allah berfirman dalam QS. Al Mu’minun : 115
“Maka apakah akmu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?.” ( QS. 23 : 115 )
Tujuan penciptaan manusia adalah mengabdi kepada-Nya, dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Allah berfirman dalam QS. Adz Dzaariyaat : 56
“Dan tidaklah kami menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.”(QS. 51 : 56 )

VI. Fungsi dan Tugas Manusia di Bumi
A. Fungsi Manusia
Fungsi manusia adalah sebagai khalifah dimuka bumi, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Baqarah : 30
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi. “ Mereka berkata :”Mengapa engkau hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau.”Tuhanmu berfirman :” Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. 2 : 30 )
Arti khalifah fil ardhi adalah mandataris Allah untuk melaksanakan hukum-hukum dan merealisasikan kehendak-kehendak-Nya di muka bumi. Manusia telah dipilih Allah sebagai khalifah-Nya. Untuk melaksanakan fungsi itu, Allah mengajarkan manusia ilmu ( asmaun kullaha ).
B. Tugas Manusia
Tugas manusia adalah memelihara amanah yang telah Allah pikulkan kepadanya, setelah langit, bumi dan gunung enggan memikulnya.
Allah berfirman dalam QS. Al Ahzab : 72
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan menkhianatinyadan dipukullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Amanah Allah itu berupa tanggung jawab memakmurkan bumi dengan melaksanakan hukum-Nya dalam kehidupan manusia dibumi ini. Sebagaimana Allah tegaskan kjepada nabi Daud as. Dalam QS. Shaad : 26
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) dimuka bumi, maka berikan keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatakan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” ( QS. 38 : 26 )

Untuk menunaikan tanggung jawab yang dipikulkan kepadanya ini manusia harus mengerahkan segala potensi (baik internal maupun eksternal) yang ada pada dirinya, dan harus sanggup berkorban dengan jiwa dan hartanya. Dengan pengerahan potensi dan kesanggupan berkorban, maka tugas manusia untuk mewujudkan tugas kekhalifahan dan menegakkan hukum-Nya pasti akan dapat terwujud.

Adapun manusia yang tidak mau melaksanakan tugas, enggan merealisasikan tugas dan perannya, maka ia adalah manusia yang jahil (bodoh) dan zalim
Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al ahzab : 72
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan menkhianatinyadan dipukullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” ( QS. 33 : 72)

VII. Sifat Dasar Manusia dan Cara Mengatasinya
Manusia diciptakan disertai sifat-sifat dasar yang negatif. Yang apabila tidak diarahkan kearah yang positif, maka akan menjatuhkan dirinya kedalam kerugian.

Allah berfirman dalam QS. Al Ashr : 1-3
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menepati kebenaran.” (QS. 103 : 1-3)

Hal ini merupakan masalah yang sangat serius, karena apabila manusia tetap pada tabiat dasar itu, maka ia berada dalam kerugian yang nyata. Oleh karena itu, manusia harus berjuang untuk mnegatasinya. Secara umum cara mengatasinya adalah dengan beriman kepada Allah dan melaksanakan amal sholeh, serta saling nasehat menasehati untuk tetap dalam haq dan kesabaran.

Untuk itu marilah kita mengenali sifat-sifat dasar itu dan cara mengatasinya :
A. Keluh kesah dan kikir
Allah berfirman dalam QS. Al Ma’arij : 19-21
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (QS. 70 : 19-21)
Keluh kesah dan kikir timbul karena tidak adanya rasa syukur atas karunia yang Allah berikan dan tidak sabar atas cobaan-Nya, sehingga ia senantisa kurang dan tidak cukup dalam segala hal dan tidak sabar atas musibah –musibah yang menimpanya. Apabila sifat ini dituruti, maka manusia akan terombang-ambing dalam keragu-raguan, dan sikap su’udzon kepada Allah sehingga mengingkari nikmat yang Allah berikan.

Untuk itu, sifat ini harus diluruskan dan diarahkan pada arah yang benar, yaitu dengan mengerjakan sholat dan amalan-amalan sholeh lainnya. Sedangkan untuk mengatasi sifat kikir yaitu dengan menginfaqkan hartanya kepada fakir miskin, mendirikan sholat, menjaga atau menutup aurat.

Allah berfirman dalam QS. Al Ma’arij : 22-35
“ Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu (kekal) di syurga lagi dimuliakan.”
B. Lemah
Allah berfirman dalam QS. An Nisa’ : 28
“Allah hendak memberi keringanan-keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah “(QS. 4 : 28)

Dengan tabiat kelemahannya itu, Allah memberikan keringanan dan kemudahan baginya. Untuk mengatasi kelemahannya itu manusia harus menerima kemudahan dan keringanan yang Allah berikan. Bagi manusia memadai apa yang telah ia usahakan sesuai dengan keadaannya.

Allah berfirman dalam QS. An Najm : 39
“Dan bahwasanya manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
C. Susah Payah.
Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang sangat berat, yaitu adanya berbagai halangan dan rintangan yang harus dihadaqpinya sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Balad : 4
“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia berada dalam susah payah” ( QS. 90:4 )

Untuk mengatasinya adalah dengan mengadakan perjuangan untuk membebaskan perbudakan manusia diatas manusia. Apabila manusia enggan mengadakam perjuangan, maka ia akan senantiasa berada didalam kesusahpayahan itu. Oleh karene itu, ia harus bangkit menggunakan potensi yang ada dan menyusun kekuatan bersama-sama untuk perjuangan pembebasan tersebut. Allah berfirman dalam QS. Al-Balad : 10-20

“ Dan kami Telah menunjukkan kepadanya dua jalan, Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, Atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, Atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Dan dia (Tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.”


D. Tergesa-gesa
Allah berfirman dalam QS. Al-Isra : 11
“Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”

Tergesa-gesa ialah ingin mendapat atau mencapai sesuatu dengan segera tanpa melalui preses yang seharusnya. Karena ketergesa-gesaan itu, maka manusia sering terjerembab kejalan yang salah, sehingga hanya menghasilkan kekecewaan. Kerena tergesa-gesa merupakan sifat negatif, maka ia harus ditundukkan dan diarahkan kejalan yang benar.

Cara mengatasinya adalah dengan bersabar, sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS. Al-Ahqof : 35

“Maka Bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul Telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.”

III. Musuh Besar dan Teman Sejati Manusia
A. Musuh Manusia
Musuh besar manusia adalah syaitan (iblis laknatullah) dan golongannya, yaitu orang yang mengikuti jalan kesesatan. Mereka senantiasa meniupkan bisikan jahat (yuwaswisudurinnas) kedalam dada manusia. Al Quran telah mempertegas syaitan itu musuh yang harus benar-benar dijadikan musuh. Karena syaitan itu akan menggiring orang-orang yang menikutinya kedalam api neraka. Allah berfiman dalam QS. Faathir : 5-6
“ Hai manusia sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali jangan lah kehidupan dunia memperdyakan kamu dan sekeli-kali syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. ( QS. Faathir : 5-6 )

Pernyataan permusuhan iblis itu telah diproklamirkan dihadapan Allah ketika ia terusir dari surga.

Allah berfirman dalam QS. Al-Isra : 61-62
“Dan (ingatlah), tatkala kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalumereka sujud kecuali iblis. dia berkata: "Apakah Aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan Aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil".

Orang-orang yang sesat dan mengikuti bujuk rayu syaitan mereka adalah hizbusysyaitan / golongan syaitan / partai syaitan. Mereka sangat giat menyuarakan kebatilan dan menghalangi tegaknya kebenaran. Mereka adalah manusia yang merugi dunia-akherat dan akan dilemparkan kedalam neraka jahannam.

Allah berfirman dalam QS. Al- Mujadillah : 19

“ Syaitan Telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka Itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan syaitan Itulah golongan yang merugi.”

Allah juga berfirman dalam QS. Al-Isra : 63

“Tuhan berfirman: "Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, Maka Sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup.”

B. Teman Sejati Manusia
Adapun teman sejati manusia adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang melaksanakan syariat-Nya. Yang konsisten menegakkan kebenaran. Mereka adlah hizbullah dan hanya hizbullah yang meraih kemenangan.
Allah berfirman dalam QS. Al-Mujadilah : 22

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang Telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan[1462] yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

Dengan demikian, jelas siapa yang harus dijadikan kawan dan siapa yang harus dijadikan lawan. Maka hendaklah manusia mengambil kawan yang layak dijadikan kawan dan menjadikan lawan siapa yang layak dijadikan lawan. Dengan tegas Rasulullah SAW telah memperingatkan kepada kita bila hendak mengambil kawan : sebagaimana sabdanya :
“ Seseorang itu mengikuti Dien temannya, maka hendaklah ia memperhatikan siapa yang menemaninya” ( HR. Abu Dawud dan Tirmidzi )

Sabda nabi tersebut menerangkan bahwa seseorang itu akan mengikuti agama, kebiasaan, adat-istiadat, tabiat temannya. Hal ini menunjukkan batapa kuatnya pengaruh teman dalam membentuk dan mewarnai perilaku manusia, baik pengaruh kepada kebaikan maupun kepada keburukan. Karena sangat strategisnya teman ini maka apabila manusia ingin senantiasa dalam kebaikan, ia harus memilih teman yang baik, yang mukmin sejati.

IV. Pola Hidup Manusia Sepanjang Sejarah
Allah berfirman dalam QS. Al-Insaan : 2-3

“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu kami jadikan dia mendengar dan Melihat.Sesungguhnya kami Telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”
.
Didalam menyikapi nikmat yang Allah berikan kepadanya, manusia terpecah menjadi dua, yakni ada yang bersyukur dan ada yang kufur. Orang yang bersyukur itu adalah mukmin muttaqin. Mereka mempergunakan nikmat-nikmat itu untuk menunjan gterpenuhinya kewajiban-kewajiban yang telah diperintahkan kepadanya. Sedangkan manusia yang kufur ini terbagi menjadi 2, yaitu: yang jelas menyatakan kafir kepada Allah dan yang menampakkan keimanan sedang dalam hatinya ingkar, mereka adalah orang-orang munafik.

A. Pola Hidup Mukmin-Muttaqin
Mereka berjalan diatas petunjuk Allah, shirathal mustaqim. Senantiasa melaksanakan dan menjaga syareat-syareat Allah, menegakkan sholat, menginfaqkan hartanya dijalan Allah, mengimani kitab-kitab-Nya, mengimani hari akherat. Allah membimbing golongan ini karena ketaqwaannya diatas petunjuk-Nya dan memasukkannya kedalam surga-Nya.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah : 2-5

“Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka.Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

Orang-orang mukmin-muttaqin rela mengorbankan seluruh hidupnya (harta dan ajiwanya) untuk mencari keridloan Allah. Sebagaiman firman Allah dalam QS. Al-Baqarah : 207
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

B. Pola Hidup Orang Kafir
Orang-orang kafir menjalani hidupnya dengan menolak wahyu (petunjuk) Allah dan memilih ideologi sesat, fastahabbul ‘alal huda (QS. 41 : 17). Mereka adalah orang yang tuli, pekak dan bisu, tidak mau mendengar peringatan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah : 6-7

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah Telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka[20], dan penglihatan mereka ditutup. dan bagi mereka siksa yang amat berat.”

Mereka mengikuti jejak para penentang kebenaran, iblis laknatullah, Fir’aun, Namrud, Abu Jahal dan lain-lain dengan menyombongkan diri, menolak wahyu Allah dan membuat kerusakan dimuka bumi. Mereka senantiasa menentang Allah dengan membuat tandingan-tandingan yang mereka sembah (agung-agungkan) dengan penuh kecintaan. Karena kekafirannya itu, Allah menutup hati mereka, membutakan mata mereka, menggiring mereka diatas jalan yang sesat dan memasukkan kedalam neraka jahannam, atau tempat kembali yang sangat buruk.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah : 165

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”

C. Pola Hidup Orang munafik
Orang-orang munafik secara lahiriah beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan hari kiamat. Keimanannya ia persaksikan dengan sebenar-benarnya, tetapi mereka bukanlah orang yang beriman. Golongan ini hiudp ditengah-tengah kaum mukminin, mereka juga mendengar wahyu-wahyu Allah, namun hatinya berpenyakit, wahyu itu tdak bermanfaat sedikitpun baginya.

Orang-orang munafik ini tidak memiliki komitmen dan loyaitas yang jelas kepada islam sehingga mereka rela menukar hidayah Allah dengan kesesatan. Mereka tetap loyal kepada syaitan-syaitan mereka (musuh-musuh islam), mereka mengadakan makar untuk menghancurkan islam. Pola hidup orang munafik ini jelas diterangkan dalam QS. Al-Baqarah : 8-16
“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka Hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain Telah beriman." mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu Telah beriman?" Ingatlah, Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami Telah beriman". dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok." Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.”( QS. Al-Baqarah : 8-16)


Allah telah memberi perumpamaan tentang pola hidup mereka dalam QS. Al-Baqarah:17-20
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat Melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, Karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 17-20)


Betapa orang-orang munafik itu tidak dapat manfaat dari wahyu-wahyu Allah yang senantiasa diturunkan, karena keragu-raguan yang ada dalam hatinya. Yang mereka tangkap hanyalah kerasnya suara guntur yang memekakkan telinga, dan kilatan petir yang seakan membutakan matanya, ia menutup telinga dengan telunjuknya, sehingga tuli dan tidak dapat mendengar peringatanAllah yang terkandung didalamnya. Golongan ini beribadah kepada Allah berada ditepian, bergerak sesuai dengan situasi dan kondisi. Sekiranya menguntungkan, maka ia tetap dalam kondisi itu, tetapi manakala ia pandang merugikan dirinya, maka ia mundur kebelakang. Mereka terombang-ambing dalam keragu-raguan dan Allah masukkan mereka kedalam neraka jahannam.
Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj : 11
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”

Mari Kita Belajar Taqwa Kepada Sahabat Rosululloh, Ustman bin Affan rodiyallohu anhu


Semoga ALLOH subhanahu wa ta'ala snantiasa memberikan tuntunannya kepada kita semua...
Serta kita senantiasa hidup dalam ridho Nya baik di Dunia hingga di Akhirat.

Mari Kita Belajar Taqwa Kepada Sahabat Rosululloh, Ustman bin Affan rodiyallohu anhu

Setelah masuk Dien Islam, Ustman bin Affan memiliki kepribadian yang begitu loyal terhadap segala yang berkaitan dengan kepentingan Dien Islam..
Utsman bin Affan ra merupakan salah satu dari empat sahabat utama Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam.

Sifat kepribadian yang Patut kita contoh dari sahabat Ustman bin Affan rodiyallohu anhu adalah:

1. Dermawan
Usman adalah sosok pribadi yang kaya raya dan suka mendermakan hartanya untuk kejayaan Dien Islam.
Utsman adalah saudagar kaya yang sangat dermawan.
Dan kekayaannya semata-mata beliau belanjakan untuk mencari dan mengharap keridloan Alloh.
Salah satunya untuk membangun dan menguatkan Dien Islam.
Beliau bahkan rela meninggalkan semua harta kekayaannya demi memenuhi panggilan Alloh dan Rosul-Nya yang memerintahkan kaum muslimin untuk hijrah ke Habasyah dan Madinah.
Ustman bin Affan memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Misalnya:
A. Beliau tidak segan-segan mengeluarkan harta kekayaannya untuk kepentingan agama dan masyarakat umum.
Oleh karena itu banyak peninggalan beliau yang masih bisa dinikmati oleh kaum muslimin hingga saat ini.
Salah satunya berupa sumur yang airnya jernih yang beliau beli dari seorang yahudi dengan harga 200 ribu dirham atau setara dengan 2.5 kg emas pada masa itu.
Dan beliau wakafkan sumur tersebut untuk kepentingan masyarakat umum yang kala itu sangat kekurangan air bersih.
Beliau juga yang memperluas Masjid Madinah dengan cara membeli tanah yang ada di sekitarnya.

B. Suatu ketika Rosululloh mengerahkan bala tentaranya saat perang Tabuk, khalifah Usman rela mendermakan 940 ekor unta, 60 ekor kuda, dan 10.000 dinar.
Diterangkan dari Abdurrahman bin Samurah, dia berkata:"Usman bin Affan menemui Nabi Muhamad untuk menyerahkan seribu dinar ketika beliau menyiapkan pasukan perang yang sedang menghadapi masa paceklik.
Usman menyerahkan uang itu, dan beliau bersabda :
"Usman tidak akan melarat karena apa yang dikerjakannya setelah hari ini", beliau mengucapkan hingga beberapa kali.
Dan masih banyak lagi peristiwa yang ia tidak segan-segan mendermakan kekayaannya demi keagungan Dien Islam.
Dan masih banyak lagi pengorbanan beliau untuk kepentingan  Dien Islam yang tidak bisa kita sebutkan satu persatu karena saking banyaknya.

2. Berjiwa Kepemimpinan Yang Tinggi
Seorang pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi.
Semasa Rosululloh masih hidup, Utsman pernah dipercaya oleh Nabi untuk menjadi walikota Madinah.
Hal itu berlangsung selama dua kali masa jabatan.
Yang pertama pada perang Dzatir Riqa, dan yang kedua saat Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam sedang melancarkan perang Ghatafan.
Hal itu dikarenakan Utsman merupakan salah satu sahabat yang memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi.

3. Adil
Selain seorang yang dermawan, Usman juga orang yang adil, sebagaimana yang diceritakan dari Abul Furat dia berkata:
"Usman berkata kepada budaknya, karena aku pernah menjewer telingamu, maka kini jewerlah telingaku."
Karena budaknya itu hanya memegang telinga Usman, maka Usman berkata:
"Jewerlah yang keras, karena hanya sekedar hukuman setimpal di dunia, bukan hukuman setimpal di akhirat."
Demikianlah keadilan Usman hingga kepada dirinya sendiri pun ia bersedia untuk diadili walau oleh seorang budak.

4. Sederhana
Usman adalah orang yang kaya raya, berlimpah harta, walau demikian dia tidak hidup dalam kemewahan, dia hidup dalam kesederhanaan.
Diriwayatkan dari Abdul Malik bin Syadat, dia berkata:
"Aku pernah melihat Usman bin Affan berkhutbah di atas mimbar pada hari Jum'at, kain ikat kepalanya juga ada yang robek."
Hal demikian dilakukan juga oleh Usman bin Affan ketika dia telah menjadi kholifah.
5. Diplomat ulung
Pada bulan Zulqa'dah tahun 6 H, Rosululloh bersama 1.400 para pengikutnya yang setia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan umrah.
Ketika sampai di Hudaibiyah Rosululloh dan para sahabatnya dihadang oleh kaum kafir Quraisy.
Dengan kejadian tersebut Rosululloh mengutus Usman bin Affan untuk menemui kaum kafir Quraisy, guna menjelaskan maksud kedatangannya ke Mekkah.
Tapi kaum quraisy tidak percaya begitu saja, sehingga antara Usman dan perwakilan dari kaum kafir terjadi perdebatan yang sangat seru dan alot.
Hingga terdengar berita bahwa Usman dianiaya dan dibunuh.
Mendengar berita tersebut para sahabat bersumpah setia untuk memerangi kaum kafir Quraisy sampai darah penghabisan.
Namun ternyata berita tentang terbunuhnya Usman bin Affan tidak terbukti.
Karena Usman kembali dalam keadaan sehat dan membawa hasil perjanjian antara kaum muslimin dan kafir Quraisy yang sangat cemerlang.
Hasil perjanjian tersebut disetujui oleh Rosululloh.

6. Ramah dan sabar
Kepribadian Usman bin Affan yang ramah dan sabar ini disalahgunakan oleh para musuh atau rakyat yang tidak suka dengan pemerintahannya.
Beliau mengalami penganiayaan dan bahkan rumahnya dibakar.
Peristiwa tragis ini puncaknya terjadi pada akhir hayatnya, hingga beliau wafat dibunuh.

Itulah sifat keteladanan dari pribadi sahabat Utsman bin Affan yang bisa kita contoh dalam hidup kita.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dan manfaatnya.

Rabu, 01 Agustus 2018

Al-Hayyu - Yang Maha Hidup


Semoga ALLOH SWT senantiasa memberi hidup dan kehidupan yang baik dan diridhoi-Nya...
Dan jika mati...
Kita mati dalam keadaan khusnul khotimah...

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Al-Hayyu - Yang Maha Hidup

ALLOH SWT berfirman:
“Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia.Maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada Nya.
Segala puji bagi ALLOH Tuhan semesta alam”.
 Q.S. Al Mukmin (40)/65

ALLOH, Al Hayyu, bukanlah sifat hidup yang diawali dari ketiadaan dan tidak pula disertai kefanaan serta tidak terkandung padanya sedikit pun kekurangan.

Sesuatu kehidupan yang ada matinya, tidak memiliki hak sama sekali untuk disembah.
Sebab yang berhak diibadahi adalah ALLOH Dzat Yang Maha Hidup dan Tidak Mati.

Sifat hidup ALLOH ini berkonsekuensi adanya kesempurnaan sifat lainnya berupa ilmu Nya, pendengaran Nya, penglihatan Nya, kemampuan Nya, kehendak Nya, rahmat Nya, melakukan apa saja yang diinginkan Nya dan sifat sempurna lainnya.

Al-Hayu yang mutlak sempurna adalah milik ALLOH, bahwa yang diciptakannya ada di bawah pengendalian-Nya, tidak ada yang bisa berbuat yang demikian kecuali ALLOH SWT.
Maka Dzat yang demikian kondisinyalah satu satunya yang berhak disembah.

ALLOH SWT berfirman:
 “Dan bertaqwalah kepada Dzat Yang Maha Hidup dan Tidak Mati”.
Q.S. Al Furqon (25)/58

Untuk mengetahui sesuatu hidup atau tidak, lihat saja perbuatannya.
Alam semesta ada adalah ALLOH yang menciptakannya, begitu juga adanya manusia, ALLOH yang menciptakannya.
Oleh sebab itu, tidak mungkin ALLOH dipahami mati karena Dia selalu menciptakan manusia dan makhluk lainnya.

ALLOH itu tidak tidur, hidupnya ALLOH itu adalah hidup yang tidak akan pernah mati.
Setiap saat ALLOH sibuk mengurusi makhluk-Nya.

Kita berbicara karena kehendak-Nya, kalau ALLOH tidak beri lidah maka kita tidak akan berbicara.
Kita bisa melihat karena ALLOH beri mata.
Hal seperti ini harus kita rasakan, kita bisa melihat bukan sekedar karena kita menjaga kesehatan, tapi karena ALLOH yang memberinya mata.
Kaki manusia bisa melangkah karena ALLOH, kulit bisa merasakan karena ALLOH SWT.

Manusia sehat bukan karena sekedar karena ia makan makanan bergizi, berapa banyak orang yang makan makanan bergizi tapi tetap saja ia setruk.
Betapa banyak pula orang mati tidak ada sebab sakit sebelumnya.
Itu disebabkan, karena ALLOH lah yang memberinya kesehatan.
Semua yang ada itu atas dasar perbuatan ALLOH SWT, karena ALLOH Al-Hayyu, Yang Maha Hidup yang sempurna.
Tidak ada yang lepas dari pengawasan-Nya.

Semua itu sebagai bukti bahwa ALLOH adalah mutlak Yang Maha Hidup.
Selain ALLOH kehidupannya terbatas.
memiliki batas kehidupan sesuai dengan batas yang ALLOH kehendaki.

ALLOH hanya memberi umur manusia sedikit, sekitar 60 tahun. Sedangkan di sisi ALLOH, satu hari di sisi ALLOH sama dengan 1000 tahun yang dirasakan manusia di Dunia.
Karenanya manusia pada hakekatnya hanya hidup beberapa saat saja di sisi ALLOH.
Oleh sebab itu, gunakanlah hidup semaksimal mungkin.
Karena orang yang hidup berbeda-beda, baik kualitas atau kuantitasnya.
Derajat mereka di hadapan ALLOH sesuai dengan perbedaan tingkatan-tingkatannya.

Hidup yang benar adalah hidup yang berkwalitas di mata ALLOH, tidak sekedar hidup.
Jika sekedar hidup, hewan juga bisa hidup.
Jika mentalitasnya seperti binatang ternak, maka ia tidak akan berani menegakkan kebenaran.
Oleh sebab itu, derajat manusia itu berdasarkan perbedaan mereka dalam menyikapi kehidupan.
Jika kehidupannya berstandar pada nilai-nilai Al Qur'an, maka semakin tinggi derajatnya di hadapan ALLOH.
Tapi bila mereka hanya fokus terhadap kehidupan duniawi, maka ketika itu juga derajatnya akan jatuh.
Sehingga ALLOH katakan, “Ia kembalikan mereka ke derajat paling rendah.”

".........Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi...."
Q.S. Al-A'raf (7)/179

Yang mulia di hadapan ALLOH bukan mereka yang bergelimang harta dan berkedudukan tinggi, sedang mental mereka seperti binatang.
Tapi mereka yang mulia adalah mereka yang kualitas hidupnya sesuai dengan aturan ALLOH.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami makna Al-Hayu, bahwa hidupnya ALLOH begitu dahsyat melahirkan karya alam dan isinya.
Begitu pula manusia, bila ingin hidupnya berkwalitas maka ikutilah aturan ALLOH, maka secara otomatis derajatnya akan naik dan bisa mencapai kemuliaan di hadapan ALLOH SWT.

Itulah makna Al-Hayyu, ALLOH setiap saat berkarya untuk kemaslahatan makhluk-Nya, semua kehidupan yang ada tergantung kepada kehidupan-Nya dan karya-Nya.
Maka alangkah indahnya jika manusia juga terus berkarya yang bermanfaat, baik bagi dirinya, keluarga dan untuk Dien Islam.

Orang yang tidak mau berkarya, tidak mau beramal sholeh, tidak mau berjihad maka ia ibarat orang mati yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Itulah kenapa hidup ada yang berkualitas dan tidak.
Jika ingin berkualitas, maka dirinya harus mengikuti aturan ALLOH.
Surga itu sebagai balasan untuk orang yang berkarya, yang beramal sholeh dan neraka balasan bagi mereka yang sombong, menolak kebenaran yang dari dari ALLOH dan rasul-Nya.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dan manfaatnya...

Minggu, 29 Juli 2018

ALLOH adalah Raja di Raja


MEMAKNAI SEBUAH PERJALANAN AGAR TIDAK KEHILANGAN ARAH TUJUAN...

(catatan kecil dari pembekalan besar)

ALLOH adalah Raja di Raja..
Alloh adalah Raja yang sesuangguhnya..
ALLOH adalah Raja pada seluruh alam, baik di Langit maupun di Bumi..
ALLOH yang telah  menciptakan kita manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya..
Hidup semata mata hanya untuk taat..taat..
dan hanya taat kepada Sang Maha Raja, yaitu ALLOH subhanahu wa ta'ala..

"Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa."
QS. Al-Baqarah (2)/21

Jadi hidup ini adalah sebuah perjalanan ketaatan..

Ketaatan kepada Sang Maha Raja Langit dan Bumi itu harus dibuktikan dengan taat kepada utusan-Nya yaitu Rosululloh..
Rosululloh diutus oleh ALLOH untuk ditaati oleh hamba hamba ALLOH...

"Barang siapa menaati Rosul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati ALLOH....."
Q.S. An-Nisa' (4)/80

"Katakanlah (Muhammad): Jika kamu mencintai ALLOH, ikutilah aku, niscaya ALLOH mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.
ALLOH Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Q.S. Ali 'Imran (3)/31

Mengapa Rosululloh harus ditaati ?
Karena Rosululloh membawa misi..menerima tugas yang tidak bisa dijalankan sendirian, melainkan harus dijalankan dengan banyak orang.
Tugas yang diberikan oleh Sang Maha Raja bukanlah tugas yang ringan, melainkan tugas yang berat...

Untuk Suksesnya amanah itu, butuh kesetiaan, butuh perjuangan, butuh kesungguhan, butuh kecerdasan, butuh pengorbanan...
Semua itu dibutuhkan agar tercapai misi visi dan cita cita suci yaitu Liyudz-hirohuu 'alad-diini kullih..

Pertanyaannya..
Sudahkah apa yang dicita citakan Rosul adalah menjadi cita cita kita?
Sudahkah menjadi tujuan hidup kita?
Jawabannya ada pada hati kita masing masing..
Sifat yang melekat pada diri seorang hamba adalah Setia.
Setia kepada ALLOH, setia kepada Rosul ALLOH...
Setia kepada Dienulloh.
Siapapun dia, baik laki laki-perempuan, tua-muda, kaya-miskin, penguasa-rakyat biasa, semuanya jika ingin menjadi hamba Alloh, maka dia harus setia kepada kebenaran.

Ternyata setia saja tidaklah cukup untuk meraih apa yang dicita citakan harus ada sifat yang berikutnya, yaitu cerdas.
Cerdas berarti mau belajar.. belajar.. terus belajar dan berpikir..
Berlatih... berlatih... dan terus berlatih...
Belajar dan berlatih untuk menjadi ummat terbaik diantara manusia.
Belajar dari para guru yang baik, pejuang pengemban amanah risalah terdahulu maupun yang sekarang.
Rosululloh Muhammad adalah guru terbaik...

Sebagaimana dalam firman-Nya:
"Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal.
(Al-Qur'an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
Q.S. Yusuf (12)/111

Apa syarat untuk tercapainya cita cita?

Motivasi yang melahirkan semangat untuk memiliki kualitas  1 mengalahkan 10.
Penguasaan ilmu, wawasan, mental dan ketrampilan yang diperlukan menjadi garapan yang harus dikerjakan secara bersama sama.

"........ Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh...."
QS. Al-Anfal (8)/65

Kebersamaan yang dimaksud adalah managerial.. pengaturan.. penataan berdasarkan potensi yang dimiliki. Semuanya tersusun rapi bersinergi, kompak,  menghasilkan kekuatan besar.

"Sesungguhnya ALLOH mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh."
Q.S. As-Saff (61)/4

Kekuatan besar yang terkumpul tentunya harus di Fokus kan kepada apa yang menjadi cita cita..

Apa saja yang memalingkan orientasi, arah dan tujuan harus disingkirkan....

Ya hanya satu...

Fa aqim waj haka lid-diini haaniifa....
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada dienulloh....,"
Q.S. Ar-Rum (30)/30

Kamis, 26 Juli 2018

Mari Kita Belajar Taqwa Kepada Sahabat Rosululloh, Umar bin Khottob rodiyallohu anhu



Saat ini...
Mari Kita Belajar Taqwa Kepada Sahabat Rosululloh, Umar bin Khottob rodiyallohu anhu

Setelah masuk Dien Islam, Umar bin khottob banyak memiliki sifat-sifat yang sangat luar biasa yang membuat amanahnya sukses luar biasa..
Sifat dan kepribadian yang patut kita contoh jika Ingin sukses dalam melaksanakan amanahnya.

Sifat Sifat yang Patut dicontoh itu adalah:

1. Pemberani
Sifat pemberani adalah sifat dasar yang dimiliki Umar bin Khottob sebelum masuk Dien  Islam.
Maka ketika beliau masuk Dien Islam sifat pemberani ini beliau arahkan dalam membela da`wah Rosululloh saw. Orang yang berani terang-terangan melakukan hijrah ke kota Madinah adalah Umar bin Khattab.

Beliau malah menantang orang-orang kafir Quraisy dengan perkataan:
"Siapa yang ingin istrinya menjadi janda, anaknya menjadi yatim maka halangilah saya untuk hijrah" dan tidak ada orang kafir Quraisy yang berani menghalangi Umar bin khottob melaksanakan hijrah.

2. Sederhana
Umar bin khottob adalah pribadi yang sederhana ketika telah masuk Dien Islam.
Hal ini bisa dibuktikan ketika beliau menjabat sebagai khalifah.
Umar tidak pernah tinggal di sebuah istana, tapi beliau tinggal di sebuah bangunan sederhana dekat mesjid, dan lebih sering berada di Masjid untuk menjalankan amanahnya.

Sikap tawadhu nya tampak ketika ia datang ke daerah taklukan, untuk serah terima kunci penguasa kota Roma, ia berjalan dengan memakai pakaian yang sederhana, diiringi oleh Patrik Yerusalem, Sophronius yang berpakaian mewah.

3. Adil
Umar bin khottob juga dikenal sebagai pemimpin yang adil.
Hal ini dirasakan oleh seorang kakek Yahudi, yang rumahnya berda di dekat mesjid.
Pada saat itu Gubernur Mesir `Amr bin Ash' akan melakukan pelebaran Mesjid, dan rumah orang Yahudi tersebut harus dibongkar.
Dengan kebijakan
ganti rugi `Amr bin Ash' merayu orang yahudi tersebut untuk pindah, namun dia enggan.
Namun `Amr bin `Ash bersikeras untuk membongkar rumah tersebut.
Maka orang Yahudi tersebut mendatangi Khalifah Umar dan menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya.
Maka Umar mengambil sebuah tulang dan membuat garis dengan pedang di atas tulang tersebut dan menyuruh orang Yahudi tersebut untuk membawa dan menyerahkannya kepada `Amr bin `Ash.
Dengan penuh keheranan orang Yahudi tersebut pulang ke Mesir dan menghadap kepada `Amr bin `Ash sambil menyerahkan tulang yang diberikan oleh Umar bin Khattab.
Ketika `Amr bin `Ash menerima tulang tersebut pucatlah wajah beliau dan menyuruh para pengawalnya untuk menghentikan pembongkaran.
Dengan penuh keheranan orang Yahudi tersebut bertanya kepada `Amr bin `Ash tentang apa yang terjadi.

Maka `Amr menjawab: bahwa Umar telah mengingatkan aku sebagai seorang pemimpin yang harus berlaku adil terhadap rakyatnya.
Maka kagumlah orang Yahudi tersebut maka ia masuk Islam dan merelakan rumahnya untuk dibongkar.

4. Tegas
Salah satu bentuk ketegasan Umar bin Khattab adalah ketika beliau memecat Khalid bin Walid sebagai panglima perang dengan pemikiran bahwa Umar merasa takut kalaulah umat Islam terlalu mendewakan Khalid bin Walid yang telah berhasil memimpin pasukannya meraih kemenangan dalam beberapa pertempuran; dan hal itu diterima dengan lapang dada oleh Khalid bin Walid.

5. Loyalitas Tinggi
Umar bin khottob adalah orang yang memiliki rasa cinta yang tinggi terhadap ALLOH SWT, Rosululloh saw.
Kecintaannya itu beliau buktikan dengan menginfakkan setengah harta beliau untuk da`wah Rosululloh saw demi tegaknya Dien Islam.
Dan yang paling mengharukan rasa cinta beliau adalah bagaimana ia tidak menerima kematian Rosululloh saw; sampai mengancam orang yang berkata Rosululloh telah meninggal maka ia akan menemui ajalnya.
Hal ini sampai ke telinga Abu Bakar, maka beliau berkata:
`Barang siapa yang menyembah Muhammad, sungguh dia telah meninggal; tapi barang siapa yang  menyembah Alloh SWT, maka Dia itu hidup selamanya takkan pernah mati".

Kemudian beliau membaca surat Ali-Imran ayat 144.

"Dan Muhammad hanyalah seorang rosul; sebelumnya telah berlalu beberapa rosul.
Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)?
Barang siapa berbalik ke belakang, maka dia tidak akan merugikan ALLOH sedikit pun.
ALLOH akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur."
Q.S. Ali 'Imran (3)/144

Mendengar itu Umar bin khottob tersadar dan menitikkan air mata pertanda kesedihannya.

6. Tanggung Jawab
Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang bertanggung jawab.
Hal ini dibuktikan ketika beliau selalu berpatroli mengontrol rakyatnya sambil memikul keperluan rakyatnya.

Pernah suatu waktu beliau melihat seorang ibu yang sedang membohongi anaknya yang kelaparan pura-pura menanak beras, padahal batu yang ada dalam wadah tersebut.
Melihat hal tersebut Umar mengambil gandum dan beliau pikul sendiri.
Ketika pengawalnya menawarkan untuk memikulnya, maka Umar berkata:
Apakah kamu akan menjerumuskan aku ke dalam neraka karena telah menelantarkan rakyatku dan membiarkannya kelaparan?

7. Hati hati Dan waspada
Bila orang lain yang saat itu menjadi khalifah, kemungkinan besar ia akan menyerahkan semua urusan amanah kepada ahlinya bgitu saja.
Namun Umar ra tidak demikian.
Selain memberi kebebasan bagi para panglima dan aparatnya untuk bertindak tapi benar, ia juga ikut memikul tanggung jawab sampai ke hal-hal kecil.

Dengan penuh kesadaran dan sangat berhati-hati,
Umar bin khottob membiarkan sistem organisasi tumbuh dengan sendirinya dalam panduan Al-Qur'an dan Sunnah Rosululloh Saw.
Umar juga membebaskan orang-orang murtad yang tertawan di masa Abu Bakar Sidiq, asalkan mereka bertobat.
Maka semua orang merasa dimaafkan dan diberi kesempatan baru untuk berprestasi di hadapan ALLOH SWT.

8. Perhatian Terhadap Pendidikan Islam
Umar bin khottob juga membiarkan setiap suku menikmati kebiasaan dan adatnya masing-masing asalkan tidak melampaui kepentingan Dien Islam.
Yang dilakukan Umar bin khottob kepada suku-suku pedalaman adalah mengirimkan para pengajar untuk memperdalam nilai nilai Islam.

9. Selalu Musyawarah
Salah satu hal lain yang membuat da'wah berkembang sukses di masa Umar bin khottob adalah berlakunya sistem musyawarah.

Umar sendiri berkata, "Kaum Muslimin berhak mengadakan musyawarah diantara sesama mereka.
Saya sendiri tak lebih hanya seorang dari kalian"

Setiap diri memikul amanah...
Setiap amanah akan diminta pertanggung-jawabannya kelak di Yaumil Akhir...

Amahah terkadang menyenangkan...
Lebih banyaknya, menyusahkan...

Umar bin Khottob sosok pribadi yang tidak terbuai oleh hal yang menyenangkan..
Tetapi juga Umar bin khottob tidak lari meninggalkan amanah tugas yang menyusahkannya...

Amanah itu bisa menghantarkan ke Surga, jika dilaksanakan sebaik baiknya dengan penuh tanggung Jawab.

Sebaliknya...

Amanah itu bisa menghantarkan ke Neraka, jika disikapi seperti barang mainan,  dilaksanakan tidak sebaik baiknya dan tidak dengan penuh tanggung Jawab.

Umar bin khottob adalah pribadi Agung dan Mulia yang patut kita contoh bagaimana sharusnya menerima dan menunaikan amanah...

Senin, 23 Juli 2018

Al-Mumit - Yang Maha Mematikan


Sedih dan bahagia adalah bagian dari hidup kita...
Hidup adalah kenyataan yang kini kita jalani...
Kematian adalah peristiwa yang pasti akan kita alami...
Hidup dan mati ada dalam kekuasaan ALLOH...
Karena ALLOH adalah Al Muhyi dan Al Mumit....

Smoga ALLOH SWT senantiasa memberi hidup dan khidupan yang baik dan diridhoi-Nya...
Dan jika mati...
Kita mati dalam keadaan khusnul khotimah...


ALLOH SWT berfirman:

هُوَ يُحْيٖ وَيُمِيْتُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

”Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”
Q.S. Yunus (10)/56

Menciptakan dan menghidupkan ciptaan-Nya mudah bagi ALLOH, apalagi membuat ciptaan-Nya menjadi mati ataupun hancur sebagaimana sediakala, mudah saja bagi ALLOH.
Dan hanya kepada-Nyalah segala sesuatu dikembalikan, karena memang Dia Yang Maha Menghidupkan dan yang Maha Mematikan.

ALLOH Al Mumit artinya ALLOH Maha Mematikan apapun yang dikehendaki-Nya.
ALLOH tidak memilih apakah itu manusia, jin atau hewan.
Jika sudah waktunya mati maka akan mati.

ALLOH SWT berfirman:
"Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu, dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain."
Q.S. Thaha (20)/55

Orang yang dicabut nyawanya dinamakan mati karena ia sesungguhnya sudah selesai dalam menjalani hidupnya di Dunia ini.
Oleh sebab itu, kita tidak perlu berkata, sekiranya tidak ada bencana alam, tentu si fulan tidak akan mati.

Umur adalah usia yang kita lalui, sedangkan ajal adalah batas akhir dari usia dalam perjalanan hidupnya di Dunia.
Usia bertambah setiap hari; sedang ajal tidak.

ALLOH SWT berfirman:
“tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”
Q.S. Al-A'raf (7)/34

Kematian berarti perjalanan pulang atau kembali kepada asal, yaitu ALLOH SWT.
Karena itu, kalau ada berita kematian, kita baiknya membaca istirja', Inna Lillah wa Inna Ilaihi Raji'un.

ALLOH SWT berfirman:
“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:
"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".
Q.S. Al-Baqarah (2)/156

ALLOH-Al Mumit, sangat mudah bagi Alloh untuk mematikan hamba-Nya, banyak cara yang terjadi untuk mengakhiri kehidupan makhluknya di Dunia ini, seperti diturunkan-Nya musibah dan bencana, banjir yang menewaskan korban sekian banyak, gempa dengan tsunami yang memporak-porandakan sebuah negarapun bisa saja terjadi, longsor yang meluluh lantakkan sebuah perkampungan, gunung meletus dengan debu yang mematikan dan lahar yang menghancurkan sarana kehidupan, angin kencang yang menjungkirbalikkan pertanian dan perikanan, kapal yang terbakar, pesawat yang jatuh, serta sekian banyaknya alat dan cara yang mengakhiri kehidupan makhluk di Dunia ini, tidak satupun makhluk yang bisa lari dari kematian, semuanya akan berakhir sesuai dengan ajal dan ketentuannya.

Bagaimana ALLOH mengakhiri kehidupan kaum Nabi Nuh, Nabi sholeh dan Nabi Luth, sangat mudah sekali dan waktu yang tidak begitu lama menelan korban tidak sedikit, melalui azab dan musibah sangat efektif sekali bagi ALLOH mematikan hamba-Nya.
ALLOH melaksanakan janjinya dengan membinasakan orang-orang yang kafir kepada Nabi Nuh a.s. dan menyelamatkan orang-orang yang beriman.
Proses kematian ummat ketika itu melalui air bah yang datang dari berbagai arah dan merendam orang-orang kafir hingga binasa.

“dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim ."
Q.S. Huud (11)/44

ALLOH  telah mengakhiri kehidupan ummat di zaman Nabi Sholeh, mereka adalah ummat yang mengingkari kerasulan sholeh, padahal bukti-bukti kenabian itu sudah jelas ditunjukkan kepada mereka, kematian yang ditimpakan kepada mereka adalah azab suara keras yang mengguntur, demikian cepatnya mereka dihancurkan oleh guntur itu, sehingga mereka hancur lebur, tanpa bekas, seakan-akan mereka tidak pernah ada.

Sebagaimana dalam firman-Nya:
“ dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu.
Ingatlah, sesungguhnya kaum tsamud mengingkari Tuhan mereka.
Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum tsamud”
Q.S. Huud (11)/67-68

Ketika terjadi hujan yang lebat dengan terus menerus, bendungan tidak mampu lagi menampung air yang semakin membludak maka akhirnya bendungan Maghrib  jebol dan hancur dengan menelan korban yang tidak sedikit dan negeri Saba’ pun hancur berantakan sebagai balasan atas kekufuran mereka.

ALLOH SWT berfirman:
”Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar yang menghancurkan segalanya dan Kami ganti kebun-kebun mereka itu dengan kebun-kebun yang ditumbuhi pohon-pohon berbuah pahit dan semacam pohon cemara dan sedikit pohon bidara”
Q.S. As Saba’ (34)/16

Begitu pula ALLOH mengakhiri hidup manusia melalui berbagai penyakit yang berjangkit di Dunia ini, selain memang penyakit itu merupakan wabah untuk mengakhiri hidupnya seseorang tapi mungkin saja itu merupakan azab yang akan mengakhirinya, bagaimana mudahnya ALLOH menciptakan dan mudah pula memusnahkan makhluk-Nya karena memang semuanya berada di atas kekuasaan-Nya, tidak satupun makhluk dapat lari dari ketentuan-Nya.

Semoga kita menjadi orang orang yang pandai bersyukur serta pandai mengunakan apa yang dikaruniakan ALLOH untuk berbhakti hanya kepada-Nya semata...

Sabtu, 21 Juli 2018

Al-Muhyi-Yang Maha Menghidupkan


Alloh berfirman:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى  ۗ  قَالَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗ  قَالَ بَلٰى وَلٰـكِنْ لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ ۗ  قَالَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا  ۗ  وَاعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.
ALLOH berfirman: Belum percayakah engkau?
Dia (Ibrahim) menjawab: Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap). Dia (ALLOH) berfirman: Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.
Ketahuilah bahwa ALLOH Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
QS. Al-Baqarah (2)/260

Berbicara tentang menghidupkan berarti berkaitan dengan nyawa.
Dari sesuatu yang ada itu ALLOH hidupkan sehingga Dia disebut dengan Al-Muhyi.

Ketika telah ALLOH tiupkan ruh maka ruhnya tidak akan mati karena manusia mati pada hakekatnya yang mati adalah jasadnya.
Ruh adalah energi yang membuat fisik manusia bergerak, oleh sebab itu orang mati tidak bisa bergerak.
ALLOH menghidupkan dari yang mati, beku dan kaku menjadi hidup dan bergerak.
Seperti biji padi yang ditanam.
Satu biji padi yang dibiarkan, tidak akan tumbuh, ia baru akan tumbuh ketika ditanam di tanah.
ALLOH lah yang menghidupkan padi itu.
Begitu juga dengan telor, telor yang dibiarkan, tidak akan bergerak-gerak.
Tapi ketika dierami oleh induknya maka mulailah ada kehidupan.
Dari yang hanya terdiri dari putih telor dan kuningnya, ALLOH rubah menjadi tulang, kaki, mata, bulu dan lainnya.
Tidak cukup sampai di situ, ALLOH lalu meniupkan ruh untuk menghidupkannya.
Tanpa ruh ia hanya akan seperti boneka dan patung.
Itulah sebabnya ALLOH disebut Al-Muhyi.

Bila manusia mengingat proses itu, maka ia tidak akan berani berbuat macam-macam kepada ALLOH, karena kunci nyawanya ada di tangan ALLOH.
Ruhnya berada di tangan ALLOH SWT.
Ketika manusia tidur di malam hari maka ketika itu ALLOH tahan sementara nyawanya.
Saat ALLOH kirim lagi nyawanya maka ia bisa hidup kembali, tapi bila ditahan terus maka ia akan mati.
Ashabul kahfi yang tidur hingga ratusan tahun, itu adalah ALLOH yang menidurkannya, untuk menyelamatkan mereka dari ancaman penguasa sistem kufur yang bertahan 3 abad lebih.

Orang yang tidur, argo meternya dihitung dalam keadaan hidup, artinya ia tetap ada kewajiban untuk beramal sholeh.
Bila tidurnya lama maka banyak kewajiban yang tidak dikerjakanmya...
Manusia yang tidur dan tidak beraktifitas maka dianggap mati, atau orang tidak tidur tapi tidak beribadah, waktunya hanya digunakan untuk perbuatan yang sia sia maka itu juga dianggap mati.

ALLOH SWT berfriman;
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.
Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,”
QS. Al-Mulk (67)/2

Kenapa dalam ayat di atas ALLOH terlebih dahulu menyebut kata kematian, baru kemudian kehidupan?
Itu disebabkan sebelum manusia ada, manusia mati dan baru kemudian ALLOH hidupkan.
Sebelum ruh ditiupkan dalam jasad manusia, meski sudah ada jasadnya maka ia tetap mati.
Itu semua bertujuan untuk menguji manusia siapa yang paling baik amalnya.

Di Dunia ini ada dua hal yang membuat banyak orang kehilangan banyak amal sholeh, yaitu banyak tidur dan melakukan perbuatan yang sia sia.
Oleh sebab itu, seorang hamba harus selalu ingat bahwa hidup itu terbatas, sebentar lagi akan mati.
Untuk itu, berikan yang terbaik untuk ALLOH. Maksimalkan waktu yang ALLOH karuniakan untuk beramal sholeh.
Waktu 24 jam itu tidak bisa ditambah, tapi bisa berkurang.
Setiap hari ALLOH putar waktu 24 jam itu.
Maka orang yang bisa memaksimalkan waktunya dengan amal shaleh ia akan menjadi orang yang sukses, adapun selain itu disebut gagal.

Rosululloh saw. bersabda,
”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang,”
HR. Bukhari

Karenanya, hidup harus disetting, agar hidup menjadi lebih bermakna..
Hidup yang sebenarnya adalah untuk ibadah kepada ALLOH.
Jika hidup tidak disetting, maka ketika mati nanti akan menjadi masalah besar, akan mengalami kerugian besar.

ALLOH SWT berfirman;
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat ALLOH.
Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi,”
QS. Al-Munafiqun (63)/9

"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni Surga.
Mereka kekal di dalamnya."
QS. Al-Baqarah (2)/82

Itulah jaminan surga hanya diperuntukkan bagi orang yang beriman dan beramal sholeh.

Oleh sebab itu, sebelum kematian datang hendaknya gunakan waktu yang dikaruniakan ALLOH itu untuk beramal sholeh, karena kematian tidak bisa dimajukan dan diakhirkan.

“Sesungguhnya ketetapan ALLOH apabila telah datang, tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui,”
QS. Nuh (71)/4

Hal pokok yang harus  ditanamkan pada diri seorang muslim, yaitu ALLOH telah berikan manusia kehidupan maka harus disyukuri.

Tidak ada yang dapat menghidupkan kecuali hanya ALLOH.
Maka tidak ada lagi peluang untuk main-main dengan hidup ini, karena argo meternya jalan terus.
Dipakai untuk tidur dihitung dan ketika dipakai untuk ibadah juga dihitung, begitu pula ketika dipakai untuk hal yang sia sia.
Semuanya akan dihitung dan kalkulasinya akan diberikan dalam bentuk kitab.
BIla amalnya bagus dan benar maka kitabnya akan diberikan dari sebelah kanan.
Tapi bila seseorang banyak membuang-buang waktu dan lalai dari menunaikan tugas dan kewajibannya, maka bukunya akan diberikan dari sebelah kiri.
Karenanya hidup ini tidak ada yang menakutkan selama waktunya diisi dengan amal sholeh.

Berapapun kita dikaruniakan umur, yang terpenting waktunya digunakan untuk iman dan amal sholeh, bukan untuk hal-hal yang melalaikan.
Tidak perlu minta dipanjangkan umur.
Apabila minta diberi panjang umur, Lalu dipanjangkan umurnya 20 tahun, ALLOH berikan sakit lumpuh sehingga tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa beramal sholeh, bahkan menyusahkan orang lain.
Tentu menjadi berarti berumur panjang, keadaannya demikian.
Karenanya..
Hidup harus punya tujuan yang pasti.
Agar ketika diambil oleh ALLOH kapanpun, kita dalam khusnul khotimah.

Agar hidup yang ALLOH karuniakan ini bermakna, maka hendaknya kita berdo’a supaya umur dan rizqi kita diberkahi hingga dapat berbuat taat kepada ALLOH dan rosul-Nya melalui Dien Islam.

Belajar Takwa dari Pribadi Sahabat Utama Rosululloh, Abu Bakar rodiyallohu anhu


Kita Belajar Taqwa dari Pribadi Sahabat Utama Rosululloh, Abu Bakar rodiyallohu anhu

ALLOH subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى. الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ. وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰ. إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ. وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Alloh) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.
Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan”.
QS. Al Lail (92) 17-21

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam yang paling utama bahkan ia adalah manusia paling mulia setelah para nabi dan rosul.
Abu Bakar memeluk Islam tatkala orang-orang masih mengingkari Nabi.
Ammar bin Yasir rodhiallohu ‘anhu mengatakan:
“(Di awal Islam) Aku melihat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam hanya bersama lima orang budak, dua orang wanita, dan Abu Bakar ash-Shiddiq ralodhiallalohu ‘anhum ‘ajmain.”
H.R. Riwayat Bukhari

Ash-shiddiq disematkan padanya karena ia selalu membenarkan apa yang datang dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana pada pagi hari setelah kejadian isro mi’raj orang-orang kafir berkata kepadanya: “Temanmu (Muhammad) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam”.
Abu Bakar menjawab: “Jika ia berkata demikian, maka itu benar”.

‘Amr bin Al Ash r.a. bertanya kepada Nabi shollallohu’alahi wa sallam:
“Siapa orang yang kau cintai?.
Rosululloh menjawab:
‘Aisyah’.
Aku bertanya lagi:
‘Kalau laki-laki?’.
Beliau menjawab:
‘Ayahnya Aisyah’ (yaitu Abu Bakar)”.
H.R. Muslim.

Umar bin al-Khottob menyifati keimanan Abu Bakar dengan permisalan yang sangat luar biasa.
Umar mengatakan:
“Seandainya ditimbang iman Abu Bakar dengan iman seluruh penduduk bumi, niscaya lebih berat iman Abu Bakar.”

Diriwayatkan dari Aisyah rodhiallohu ‘anha, ia menceritakan, setiap harinya Rosululloh selalu datang ke rumah Abu Bakar di waktu pagi atau di sore hari, namun pada hari dimana Rosululloh diizinkan untuk berhijrah, beliau datang tidak pada waktu biasanya.
Abu Bakar yang melihat kedatangan Rosululloh berkata:
“Tidaklah Rosululloh datang di waktu (luar kebiasaan) seperti ini, pasti karena ada urusan yang sangat penting”.
Saat tiba di rumah Abu Bakar, Rosululloh bersabda:
“Aku telah diizinkan untuk berhijrah”.
Kemudian Abu Bakar menanggapi:
“Apakah Anda ingin agar aku menemanimu wahai Rosululloh?”
Rosululloh menjawab:
“Iya, temani aku”.
Abu Bakar pun menangis.
Kemudian Aisyah mengatakan:
“Demi Alloh!
Sebelum hari ini, aku tidak pernah sekalipun melihat seseorang menagis karena berbahagia.
Aku melihat Abu Bakar menangis pada hari itu”.
Abu Bakar kemudian berkata:
“Wahai Nabi Alloh, ini adalah kedua kudaku yang telah aku persiapkan untuk hari ini”.
AR. Bukhari

Subhanalloh!
Abu Bakar menangis bahagia karena bisa hijrah bersama Rosululloh, padahal hijrah dari Mekah ke Madinah kala itu benar-benar membuat nyawa terancam, meninggalkan harta, meninggalkan keluarga; anak dan istri yang ia cintai, tapi cinta Abu Bakar kepada Rosululloh membuatnya lebih mengutamakan Rosululloh daripada harta, anak, istri, bahkan dirinya sendiri.

Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang amat lembut hatinya
sehingga tatkala membaca Al-Quran, matanya senantiasa berurai air mata.
Tatkala Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sakit menjelang wafatnya, beliau memerintahkan Abu Bakar agar mengimami kaum muslimin.
Lalu Aisyah mengomentari hal itu, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang sangat lembut, apabila ia membaca Al-Quran, ia tak mampu menahan tangisnya”.
Aisyah khawatir kalau hal itu mengganggu para jamaah.
Namun Rosululloh saw tetap memerintahkan agar Abu Bakar mengimami kaum muslimin.

Abu Bakar adalah salah seorang sahabat yang diperintahkan Rosululloh untuk berhijrah ke negeri Habasyah.
Dalam perjalanan menuju Habasyah, saat sampai di suatu wilayah yang bernama Barku al-Ghumad, Abu Bakar berjumpa dengan seseorang yang dikenal dengan Ibnu Dughnah yang kemudian menanyakan perihal tentangnya.
Lalu Ibnu Dughnah mengajak Abu Bakar kembali ke Mekah dan ia berkata kepada kafir Quraisy:
“Apakah kalian mengusir orang yang suka menghilangkan beban orang-orang miskin, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu, dan selalu menolong di jalan kebenaran?”
H.R. Bukhari

Orang-orang kafir Quraisy mengeluh kepada Ibnu Dhughnah agar ia meminta Abu Bakar membaca Al-Quran di dalam rumahnya saja, tidak di halaman rumah, apalagi di tempat-tempat umum.
Mereka khawatir istri-istri dan anak-anak mereka terpengaruh dengan lantunan ayat suci yang dibaca oleh Abu Bakar.

Dikisahkan pula dari Aisyah rodhiallohu’anha, ia berkata:
“Abu Bakar ash-Shiddiq memiliki budak laki-laki yang senantiasa mengeluarkan kharraj (setoran untuk majikan) padanya.
Abu Bakar biasa makan dari kharraj itu.
Pada suatu hari ia datang dengan sesuatu, yang akhirnya Abu Bakar makan darinya.
Tiba-tiba sang budak berkata:
 ‘Apakah Anda tahu dari mana makanan ini?’.
Abu Bakar bertanya:
‘Dari mana?’
Ia menjawab:
‘Dulu pada masa jahiliyah aku pernah menjadi dukun yang menyembuhkan orang.
Padahal bukannya aku pandai berdukun, namun aku hanya menipunya.
Lalu si pasien itu menemuiku dan memberi imbalan buatku.
Yang Anda makan saat ini adalah hasil dari upah itu.
Akhirnya Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga keluarlah semua yang ia makan.”
H.R. Bukhari

Ada seseorang yang bertanya pada rosululloh saw:
“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rosululloh?"
Beliau berkata:
“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Orang tersebut menjawab:
 “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak sholat, banyak puasa dan banyak sedekah.
Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Alloh dan Rosul-Nya.
”Beliau shollallohu ‘alaihi wa salam berkata:
“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam:
*Anta ma’a man ahbabta.*
"Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”

Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar.
Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”
H.R. Bukhari

Mencintai ALLOH adalah mengikuti aturan-Nya..
Mencintai rosul adalah mengikuti sunnahnya..
 
Copyright © 2013 Belajar Takwa
Design by FBTemplates | BTT