Indahnya Saling Nasehat-Menasehati

Indahnya Saling Nasehat-Menasehati
BREAKING

Sabtu, 21 Juli 2018

Al-Muhyi-Yang Maha Menghidupkan


Alloh berfirman:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى  ۗ  قَالَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗ  قَالَ بَلٰى وَلٰـكِنْ لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ ۗ  قَالَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا  ۗ  وَاعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.
ALLOH berfirman: Belum percayakah engkau?
Dia (Ibrahim) menjawab: Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap). Dia (ALLOH) berfirman: Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.
Ketahuilah bahwa ALLOH Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
QS. Al-Baqarah (2)/260

Berbicara tentang menghidupkan berarti berkaitan dengan nyawa.
Dari sesuatu yang ada itu ALLOH hidupkan sehingga Dia disebut dengan Al-Muhyi.

Ketika telah ALLOH tiupkan ruh maka ruhnya tidak akan mati karena manusia mati pada hakekatnya yang mati adalah jasadnya.
Ruh adalah energi yang membuat fisik manusia bergerak, oleh sebab itu orang mati tidak bisa bergerak.
ALLOH menghidupkan dari yang mati, beku dan kaku menjadi hidup dan bergerak.
Seperti biji padi yang ditanam.
Satu biji padi yang dibiarkan, tidak akan tumbuh, ia baru akan tumbuh ketika ditanam di tanah.
ALLOH lah yang menghidupkan padi itu.
Begitu juga dengan telor, telor yang dibiarkan, tidak akan bergerak-gerak.
Tapi ketika dierami oleh induknya maka mulailah ada kehidupan.
Dari yang hanya terdiri dari putih telor dan kuningnya, ALLOH rubah menjadi tulang, kaki, mata, bulu dan lainnya.
Tidak cukup sampai di situ, ALLOH lalu meniupkan ruh untuk menghidupkannya.
Tanpa ruh ia hanya akan seperti boneka dan patung.
Itulah sebabnya ALLOH disebut Al-Muhyi.

Bila manusia mengingat proses itu, maka ia tidak akan berani berbuat macam-macam kepada ALLOH, karena kunci nyawanya ada di tangan ALLOH.
Ruhnya berada di tangan ALLOH SWT.
Ketika manusia tidur di malam hari maka ketika itu ALLOH tahan sementara nyawanya.
Saat ALLOH kirim lagi nyawanya maka ia bisa hidup kembali, tapi bila ditahan terus maka ia akan mati.
Ashabul kahfi yang tidur hingga ratusan tahun, itu adalah ALLOH yang menidurkannya, untuk menyelamatkan mereka dari ancaman penguasa sistem kufur yang bertahan 3 abad lebih.

Orang yang tidur, argo meternya dihitung dalam keadaan hidup, artinya ia tetap ada kewajiban untuk beramal sholeh.
Bila tidurnya lama maka banyak kewajiban yang tidak dikerjakanmya...
Manusia yang tidur dan tidak beraktifitas maka dianggap mati, atau orang tidak tidur tapi tidak beribadah, waktunya hanya digunakan untuk perbuatan yang sia sia maka itu juga dianggap mati.

ALLOH SWT berfriman;
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.
Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,”
QS. Al-Mulk (67)/2

Kenapa dalam ayat di atas ALLOH terlebih dahulu menyebut kata kematian, baru kemudian kehidupan?
Itu disebabkan sebelum manusia ada, manusia mati dan baru kemudian ALLOH hidupkan.
Sebelum ruh ditiupkan dalam jasad manusia, meski sudah ada jasadnya maka ia tetap mati.
Itu semua bertujuan untuk menguji manusia siapa yang paling baik amalnya.

Di Dunia ini ada dua hal yang membuat banyak orang kehilangan banyak amal sholeh, yaitu banyak tidur dan melakukan perbuatan yang sia sia.
Oleh sebab itu, seorang hamba harus selalu ingat bahwa hidup itu terbatas, sebentar lagi akan mati.
Untuk itu, berikan yang terbaik untuk ALLOH. Maksimalkan waktu yang ALLOH karuniakan untuk beramal sholeh.
Waktu 24 jam itu tidak bisa ditambah, tapi bisa berkurang.
Setiap hari ALLOH putar waktu 24 jam itu.
Maka orang yang bisa memaksimalkan waktunya dengan amal shaleh ia akan menjadi orang yang sukses, adapun selain itu disebut gagal.

Rosululloh saw. bersabda,
”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang,”
HR. Bukhari

Karenanya, hidup harus disetting, agar hidup menjadi lebih bermakna..
Hidup yang sebenarnya adalah untuk ibadah kepada ALLOH.
Jika hidup tidak disetting, maka ketika mati nanti akan menjadi masalah besar, akan mengalami kerugian besar.

ALLOH SWT berfirman;
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat ALLOH.
Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi,”
QS. Al-Munafiqun (63)/9

"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni Surga.
Mereka kekal di dalamnya."
QS. Al-Baqarah (2)/82

Itulah jaminan surga hanya diperuntukkan bagi orang yang beriman dan beramal sholeh.

Oleh sebab itu, sebelum kematian datang hendaknya gunakan waktu yang dikaruniakan ALLOH itu untuk beramal sholeh, karena kematian tidak bisa dimajukan dan diakhirkan.

“Sesungguhnya ketetapan ALLOH apabila telah datang, tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui,”
QS. Nuh (71)/4

Hal pokok yang harus  ditanamkan pada diri seorang muslim, yaitu ALLOH telah berikan manusia kehidupan maka harus disyukuri.

Tidak ada yang dapat menghidupkan kecuali hanya ALLOH.
Maka tidak ada lagi peluang untuk main-main dengan hidup ini, karena argo meternya jalan terus.
Dipakai untuk tidur dihitung dan ketika dipakai untuk ibadah juga dihitung, begitu pula ketika dipakai untuk hal yang sia sia.
Semuanya akan dihitung dan kalkulasinya akan diberikan dalam bentuk kitab.
BIla amalnya bagus dan benar maka kitabnya akan diberikan dari sebelah kanan.
Tapi bila seseorang banyak membuang-buang waktu dan lalai dari menunaikan tugas dan kewajibannya, maka bukunya akan diberikan dari sebelah kiri.
Karenanya hidup ini tidak ada yang menakutkan selama waktunya diisi dengan amal sholeh.

Berapapun kita dikaruniakan umur, yang terpenting waktunya digunakan untuk iman dan amal sholeh, bukan untuk hal-hal yang melalaikan.
Tidak perlu minta dipanjangkan umur.
Apabila minta diberi panjang umur, Lalu dipanjangkan umurnya 20 tahun, ALLOH berikan sakit lumpuh sehingga tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa beramal sholeh, bahkan menyusahkan orang lain.
Tentu menjadi berarti berumur panjang, keadaannya demikian.
Karenanya..
Hidup harus punya tujuan yang pasti.
Agar ketika diambil oleh ALLOH kapanpun, kita dalam khusnul khotimah.

Agar hidup yang ALLOH karuniakan ini bermakna, maka hendaknya kita berdo’a supaya umur dan rizqi kita diberkahi hingga dapat berbuat taat kepada ALLOH dan rosul-Nya melalui Dien Islam.

Belajar Takwa dari Pribadi Sahabat Utama Rosululloh, Abu Bakar rodiyallohu anhu


Kita Belajar Taqwa dari Pribadi Sahabat Utama Rosululloh, Abu Bakar rodiyallohu anhu

ALLOH subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى. الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ. وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَىٰ. إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ. وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Alloh) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.
Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan”.
QS. Al Lail (92) 17-21

Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam yang paling utama bahkan ia adalah manusia paling mulia setelah para nabi dan rosul.
Abu Bakar memeluk Islam tatkala orang-orang masih mengingkari Nabi.
Ammar bin Yasir rodhiallohu ‘anhu mengatakan:
“(Di awal Islam) Aku melihat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam hanya bersama lima orang budak, dua orang wanita, dan Abu Bakar ash-Shiddiq ralodhiallalohu ‘anhum ‘ajmain.”
H.R. Riwayat Bukhari

Ash-shiddiq disematkan padanya karena ia selalu membenarkan apa yang datang dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana pada pagi hari setelah kejadian isro mi’raj orang-orang kafir berkata kepadanya: “Temanmu (Muhammad) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam”.
Abu Bakar menjawab: “Jika ia berkata demikian, maka itu benar”.

‘Amr bin Al Ash r.a. bertanya kepada Nabi shollallohu’alahi wa sallam:
“Siapa orang yang kau cintai?.
Rosululloh menjawab:
‘Aisyah’.
Aku bertanya lagi:
‘Kalau laki-laki?’.
Beliau menjawab:
‘Ayahnya Aisyah’ (yaitu Abu Bakar)”.
H.R. Muslim.

Umar bin al-Khottob menyifati keimanan Abu Bakar dengan permisalan yang sangat luar biasa.
Umar mengatakan:
“Seandainya ditimbang iman Abu Bakar dengan iman seluruh penduduk bumi, niscaya lebih berat iman Abu Bakar.”

Diriwayatkan dari Aisyah rodhiallohu ‘anha, ia menceritakan, setiap harinya Rosululloh selalu datang ke rumah Abu Bakar di waktu pagi atau di sore hari, namun pada hari dimana Rosululloh diizinkan untuk berhijrah, beliau datang tidak pada waktu biasanya.
Abu Bakar yang melihat kedatangan Rosululloh berkata:
“Tidaklah Rosululloh datang di waktu (luar kebiasaan) seperti ini, pasti karena ada urusan yang sangat penting”.
Saat tiba di rumah Abu Bakar, Rosululloh bersabda:
“Aku telah diizinkan untuk berhijrah”.
Kemudian Abu Bakar menanggapi:
“Apakah Anda ingin agar aku menemanimu wahai Rosululloh?”
Rosululloh menjawab:
“Iya, temani aku”.
Abu Bakar pun menangis.
Kemudian Aisyah mengatakan:
“Demi Alloh!
Sebelum hari ini, aku tidak pernah sekalipun melihat seseorang menagis karena berbahagia.
Aku melihat Abu Bakar menangis pada hari itu”.
Abu Bakar kemudian berkata:
“Wahai Nabi Alloh, ini adalah kedua kudaku yang telah aku persiapkan untuk hari ini”.
AR. Bukhari

Subhanalloh!
Abu Bakar menangis bahagia karena bisa hijrah bersama Rosululloh, padahal hijrah dari Mekah ke Madinah kala itu benar-benar membuat nyawa terancam, meninggalkan harta, meninggalkan keluarga; anak dan istri yang ia cintai, tapi cinta Abu Bakar kepada Rosululloh membuatnya lebih mengutamakan Rosululloh daripada harta, anak, istri, bahkan dirinya sendiri.

Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang amat lembut hatinya
sehingga tatkala membaca Al-Quran, matanya senantiasa berurai air mata.
Tatkala Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sakit menjelang wafatnya, beliau memerintahkan Abu Bakar agar mengimami kaum muslimin.
Lalu Aisyah mengomentari hal itu, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang yang sangat lembut, apabila ia membaca Al-Quran, ia tak mampu menahan tangisnya”.
Aisyah khawatir kalau hal itu mengganggu para jamaah.
Namun Rosululloh saw tetap memerintahkan agar Abu Bakar mengimami kaum muslimin.

Abu Bakar adalah salah seorang sahabat yang diperintahkan Rosululloh untuk berhijrah ke negeri Habasyah.
Dalam perjalanan menuju Habasyah, saat sampai di suatu wilayah yang bernama Barku al-Ghumad, Abu Bakar berjumpa dengan seseorang yang dikenal dengan Ibnu Dughnah yang kemudian menanyakan perihal tentangnya.
Lalu Ibnu Dughnah mengajak Abu Bakar kembali ke Mekah dan ia berkata kepada kafir Quraisy:
“Apakah kalian mengusir orang yang suka menghilangkan beban orang-orang miskin, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu, dan selalu menolong di jalan kebenaran?”
H.R. Bukhari

Orang-orang kafir Quraisy mengeluh kepada Ibnu Dhughnah agar ia meminta Abu Bakar membaca Al-Quran di dalam rumahnya saja, tidak di halaman rumah, apalagi di tempat-tempat umum.
Mereka khawatir istri-istri dan anak-anak mereka terpengaruh dengan lantunan ayat suci yang dibaca oleh Abu Bakar.

Dikisahkan pula dari Aisyah rodhiallohu’anha, ia berkata:
“Abu Bakar ash-Shiddiq memiliki budak laki-laki yang senantiasa mengeluarkan kharraj (setoran untuk majikan) padanya.
Abu Bakar biasa makan dari kharraj itu.
Pada suatu hari ia datang dengan sesuatu, yang akhirnya Abu Bakar makan darinya.
Tiba-tiba sang budak berkata:
 ‘Apakah Anda tahu dari mana makanan ini?’.
Abu Bakar bertanya:
‘Dari mana?’
Ia menjawab:
‘Dulu pada masa jahiliyah aku pernah menjadi dukun yang menyembuhkan orang.
Padahal bukannya aku pandai berdukun, namun aku hanya menipunya.
Lalu si pasien itu menemuiku dan memberi imbalan buatku.
Yang Anda makan saat ini adalah hasil dari upah itu.
Akhirnya Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga keluarlah semua yang ia makan.”
H.R. Bukhari

Ada seseorang yang bertanya pada rosululloh saw:
“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rosululloh?"
Beliau berkata:
“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Orang tersebut menjawab:
 “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak sholat, banyak puasa dan banyak sedekah.
Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Alloh dan Rosul-Nya.
”Beliau shollallohu ‘alaihi wa salam berkata:
“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam:
*Anta ma’a man ahbabta.*
"Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”

Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar.
Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”
H.R. Bukhari

Mencintai ALLOH adalah mengikuti aturan-Nya..
Mencintai rosul adalah mengikuti sunnahnya..

Senin, 04 Juni 2018

Al Haliim - Yang Maha penyantun


ALLOH Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ  يَّتْبَعُهَاۤ اَذًى ۗ  وَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima).
ALLOH Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”
QS. Al-Baqarah (2)/263

Sifat penyantun yang sempurna, yang mencakup orang kafir, dzolim, munafik, dan yang suka melakukan maksiat.
Dimana ALLOH SWT memberi mereka tempo dan tidak segera menghukum mereka, dengan harapan mereka akan bertaubat.
Bila ALLOH SWT berkehendak niscaya ALLOH SWT akan segera menghukum mereka dengan sebab dosa-dosa mereka selepas dilakukan oleh mereka.
Karena, dosa-dosa itu mengharuskan adanya akibat berupa hukuman yang segera dan bermacam-macam.
Akan tetapi kesantunan ALLOH SWT itulah yang membuat-Nya memberikan tangguh kepada mereka.

Sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ يُـؤَاخِذُ اللّٰهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوْا مَا تَرَكَ عَلٰى ظَهْرِهَا مِنْ دَاۤ بَّةٍ وَّلٰـكِنْ يُّؤَخِّرُهُمْ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ  فَاِذَا جَآءَ اَجَلُهُمْ فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِعِبَادِهٖ بَصِيْرًا

“Dan kalau sekiranya ALLOH menyiksa manusia disebabkan usahanya niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi satu mahluk melata pun.
Akan tetapi ALLOH menangguhkan (penyiksaan) mereka sampai waktu yang tertentu.
Maka apabila datang ajal mereka, sesungguhnya ALLOH adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (QS. Fathir (35)/45)

Dia menahan hukuman-Nya untuk segera ditimpakan kepada orang-orang yang berbuat dosa, maka ALLOH SWT memberi mereka tempo agar mereka bertaubat.
Namun ALLOH SWT tidak lalai bila mereka tetap berbuat dosa dan terus-menerus dalam sikap melampaui batas.

Wujud mengimani nama ALLOH Al-Halim adalah kita mengetahui betapa besar kemurahan ALLOH SWT dan karunia-Nya terhadap hamba-hamba-Nya.
Betapa besar pula kasih sayang-Nya, dimana ALLOH SWT memberikan tempo kepada hamba-hamba-Nya untuk bertaubat.
Dalam tempo itu pun ALLOH SWT tetap berikan karunia-Nya kepada mereka.
Tentu hal ini menuntut kita untuk tahu diri dan banyak mensyukuri nikmat-Nya.
Kalaulah bukan karena sifat penyantun-Nya niscaya kita telah binasa dihukum-Nya...

Rosululloh saw bersabda:
“Tiada sesembahan yang benar kecuali ALLOH Yang Maha Agung dan Yang Maha Penyantun, tiada sesembahan yang benar kecuali ALLOH Robb Arsy yang agung, tiada sesembahan yang benar kecuali ALLOH Robb sekalian langit-langit dan Robb bumi serta Robb Arsy yang mulia.”
HR. Al-Bukhari

Di bulan suci romadhon ini adalah kesempatan emas untuk memurnikan ketaatan kita kepada ALLOH SWT, agar kesungguhan kita ini menjadi sebab ALLOH hunjamkan keyakinan yang sempurna dan pribadi yang mulia sehingga kita senantiasa terpelihara dari sifat dzolim dan sifat munafik.
Selanjutnya kita mlakukan segala sesuatunya semata mata hanya untuk beribadah kepada ALLOH Subhanahu wa Ta'ala...

Al A'dl - Yang Maha Adil


ALLOH SWT berfirman:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَّعَدْلاً   ۗ  لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِهٖ  ۚ  وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

"Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur'an) dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
QS. Al-An'am (6)/115

Keadillan ALLOH SWT bersifat mutlak, tidak dipengaruhi oleh apapun dan oleh siapapun.
Keadilan ALLOH SWT juga didasari dengan ilmu ALLOH SWT yang Maha Luas, sehingga tidak mungkin keputusan-Nya itu salah.

ALLOH adalah Pencipta segala keindahan dan keburukan, kebaikan, dan kejahatan.

ALLOH SWT bersifat adil pada ciptaan-Nya, dalam hal ini ada rahasia yang sulit dimengerti.
Maka dari itu, kita perlu memahami bahwa seringkali orang harus mengenal lawan kata dari sesuatu untuk memahaminya.
Orang yang tidak pernah merasakan kesedihan, tidak akan mengenal kebahagiaan.
Jika tidak ada yang buruk, kita tidak akan mengenal keindahan.
Baik dan buruk sama pentingnya.
ALLOH menunjukkan yang satu dengan yang lain, yang benar dengan yang salah, dan menunjukkan kepada kita akibat dari masing-masingnya.
Dia memperlihatkan pahala sebagai lawan kata dari siksaan.
Lalu dipersilakan-Nya kita untuk menggunakan penilaian kita sendiri. Sesuai dengan takdirnya, masing-masing mendapatkan keselamatan dalam penderitaan dan rasa sakit, atau kutukan dalam kekayaan.
ALLOH mengetahui apa yang terbaik bagi makhluk-Nya.
Hanya ALLOH yang mengetahui nasib kita.
Perwujudan dari nasib itu adalah keadilan-Nya.

ALLOH Maha Adil karena ALLOH selalu menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya, sesuai dengan keadilan-Nya Yang Maha Sempurna. Dia bersih dari sifat aniaya, baik dalam hukum-Nya maupun dalam perbuatan-Nya.
Di antara hukum-Nya mengenai hak hamba-hamba-Nya adalah bahwa tidak ada bagi manusia itu kecuali apa yang ia usahakan, dan hasil dari segala usahanya itu akan dilihatnya.
Orang-orang yang saleh akan ditempatkan di surga yang penuh dengan kenikmatan, orang-orang yang mengabaikan perintah ALLOH akan dimasukkan ke dalam neraka yang penuh dengan penderitaan.

Adil adalah menempatkan sesuatu sesuai dengan haknya atau semestinya dengan tidak melanggar hak dan kewajiban lainya.

Adil adalah memutuskan perkara sesuai dengan ketentuan ALLOH SWT dalam al-Quran dan ketentuan rosululloh SAW dalam as-Sunnah.

Adl pada manusia adalah orang yang berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ukuran yang ganda.
Dari sinilah kita mengetahui bahwa orang yang adil tidak berpihak kepada salah seorang yang berselisih, dan seorang yang adil selalu berpihak kepada yang benar, karena baik yang benar maupun yang salah sama-sama harus memperoleh haknya.

Orang yang adil akan melakukan sesuatu yang patut, tidak sewenang-wenang dan berusaha memutuskan perkara secara adil sesuai hukum yang berlaku, tidak memihak kepada siapapun dalam memutuskan suatu perkara, membenarkan yang benar, dan menyalahkan yang salah.

Al Hakam - Yang Maha Menetapkan Hukum


ALLOH, Al Hakam bermakna Yang Menetapkan Hukum bagi segala makhluk-Nya, hukum yang tidak dapat dirubah oleh siapapun.

ALLOH adalah Hakim Agung.
Sebagai Hakim Agung, ALLOH SWT tidak membutuhkan sesuatu, malah sebaliknya segala sesuatu membutuhkan-Nya.
Dia tidak bisa dirayu, disogok, dan disuap.
Di pengadilan ALLOH SWT, semua perkara diputus dengan seadil-adilnya.
Semua alat bukti dapat dihadirkan, bahkan ALLOH SWT sendiri yang akan menjadi saksinya. Jangankan perbuatan yang terlihat, niat yang tersembunyi sekalipun dapat dilihat ALLOH SWT.
Al Hakam, ada 5 pengertian:
Ke 1. Al-Hakam adalah bahwa ALLOH SWT-lah yang Maha Memutuskan dan Menetapkan semua perkara.
Segala yang terjadi di kolong langit dan di atas bumi, didalam perut bumi adalah ketetapan-Nya.
Kapan selembar daun mengering, kapan terlepas dari tangkainya, dan kapan pula jatuhnya ke bumi, Dia-lah yang menetapkan.
Tiada Tuhan selain ALLOH, yang menetapkan segala sesuatu berdasar hukum-Nya.

ALLOH SWT berfirman:
"Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya.
Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."
QS. Al-An'am (6)/59

Ke 2, melalui Asma-Nya ini ALLOH SWT menetapkan bahwa setiap individu manusia akan memperoleh apa yang telah diusahakannya.
Setiap individu menanggung sendiri dosa dan pahalanya.
Anak tidak menanggung dosa bapaknya, demikian juga sebaliknya.
Islam tidak mengenal dosa warisan.

Sebagaimana firman-Nya:
“Dan bahwa setiap manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusakannya, dan bahwa usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepada-nya).”
An-Najm /39-40

Ke 3, sebagai Al-Hakam, ALLOH SWT telah menetapkan kepastian hukum bagi hamba-Nya.
Bagi yang berbakti akan diganjar dengan kebahagiaan, sebaliknya bagi yang durhaka akan dihukum dengan kesengsaraan.

ALLOH SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.”
QS. Al-Infithar /13,14

Ke 4, ALLOH SWT adalah Hakim Agung.
Sebagai Hakim Agung, ALLOH SWT tidak membutuhkan sesuatu, malah sebaliknya segala sesuatu membutuhkan-Nya.
Dia tidak bisa dirayu, disogok, dan disuap.
Di pengadilan ALLOH SWT, semua perkara diputus dengan seadil-adilnya.
Semua alat bukti dapat dihadirkan, bahkan ALLOH SWT sendiri yang akan menjadi saksinya. Jangankan perbuatan yang terlihat, niat yang tersembunyi sekalipun dapat dilihat ALLOH SWT.

Di hadapan ALLOH, mana mungkin kita mengingkari atau sekadar menyembunyikannya?

Ke 5, setiap keputusan yang keluar dari-Nya pastilah merupakan keputusan dan adil dan bijaksana.
ALLOH SWT tidak pernah mendzalimi hamba-Nya, tapi hamba-Nya lah yang berbuat dzalim terhadap dirinya sendiri.
Apa pun keputusan-Nya harus kita terima.

ALLOH SWT berfirman:
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu.
Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.
ALLOH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
QS.  Al-Baqarah (2)/216

Sebagai hambanya Al-Hakam, kita hanya boleh berbaik sangka terhadap apa yang telah diputuskan kepada kita sampai saat ini, juga terhadap apa yang akan diputuskan kelak pada kita di Akherat nanti.
Kita rela dan bersyukur atas keputusan-Nya di Dunia ini, dan kita senantiasa berharap keputusan terbaik buat kita di Akherat kelak...

Al mudzil - Yang Maha Menghinakan.


ALLOH Al Mudzill, artinya ALLOH menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki

ALLOH SWT maha Menghinakan kedudukan seorang hamba yang tidak istiqomah di jalan ALLOH SWT.

ALLOH SWT akan memberikan kehinaan dan kerendahan kepada orang orang selalu memusuhi agama ALLOH, dienulloh, yang tentunya orang orang kafir, orang orang yang menolak ajaran Islam, benci terhadap Islam, bahkan memusuhi terhadap orang islam.

ALLOH memiliki otoritas untuk memuliakan dan menghinakan hamba-Nya.
Seorang hamba dimuliakan karena iman dan amal sholehnya, demikian juga hamba yang lain dihinakan karena perbuatannya.
ALLOH memuliakan dan menghinakan hamba-Nya atas dasar keadilan-Nya.
ALLOH tidak pernah mendzalimi hamba-Nya, tetapi hamba itulah yang mendzalimi dirinya sendiri.

ALLOH subhanahu wa ta'ala berfirman :
"Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki.
Di tangan Engkaulah segala kebajikan.
Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Q.S. Ali 'Imran (3)/26

Seorang muslim yang memahami Asma ALLOH yang satu ini senantiasa waspada dan hati-hati, sebab bisa jadi kehormatan dan kemuliaan yang kini disandangnya menjadi batu ujian yang justru bisa membalikkan posisinya.

Jika saat ini diberi amanah harta kekayaan, atau jabatan, ia tidak bangga apalagi menyombongkan diri.
Ia tetap tawadhu (rendah hati) sekalipun kekayaannya melimpah, anak buahnya banyak, dan orang lain memberi penghormatan karena kebaikan dan kedermawanannya.
Ia sadar bahwa harta kekayaan, jabatan adalah amanah dan titipan ALLOH agar ia mampu membagikan kesejahteraan kepada yang lain.
Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah perantara untuk mensejahterakan kaum fakir dan miskin.

Seorang Muslim yang menyadari hakikat Asma ALLOH, Al-Mudzil senantiasa hati-hati dalam menggunakan harta kekayaannya.
Ia tidak semena-mena membelanjakannya, apalagi untuk kemaksiatan.

Di dalam Al Qur'an dijelaskan bahwa orang-orang yang menjauhkan diri dari ALLOH dan mengingkari ayat-ayat-Nya akan ditimpakan kehinaan.
Salah satu dari mereka adalah orang-orang Yahudi, sebagaimana diceritakan dalam Al Qur'an,

"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) ALLOH dan tali (perjanjian) dengan manusia.
Mereka mendapat murka dari ALLOH dan (selalu) diliputi kesengsaraan."
Q.S. Ali 'Imran (3)/112

"Adapun orang-orang yang berbuat kejahatan (akan mendapat) balasan kejahatan yang setimpal dan mereka diselubungi kehinaan..."
Q.S. Yunus (10)/27

"Ya Tuhan kami....
berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu.
Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat.
Sungguh Engkau tidak pernah mengingkari janji.
Q.S. Ali 'Imran (3)/194

Ar-Roofi’ - Yang Maha Tinggi


ALLOH, Ar-Roofi' adalah Dia yang meninggikan orang mukmin dengan keselamatan. Dia memuliakan hamba-hamba suci-Nya dengan mendekatkan diri mereka dengan-Nya.

ALLOH SWT berfirman:
orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya ALLOH akan memberi kelapangan untukmu.
Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya ALLOH akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Dan ALLOH Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
QS. Al-Mujaadilah (58)/11

Dia-lah ALLOH SWT yang tidak pernah lepas memperhatikan satu per satu hamba-hamba-Nya, memperhitungkan, sekaligus memberi hukuman dan penghargaan.
Orang-orang yang mengukir prestasi semasa hidupnya di dunia ini tidak perlu khawatir perbuatannya sia-sia.
Lambat atau cepat prestasi itu akan diperlihatkan dan dihargai.
Bisa jadi penghargaan itu diberikan pada saat dia masih hidup, atau diberikan saat sudah mati.
Namanya dikenang banyak orang, dijadikan teladan, dijadikan sumber inspirasi, dan ditulis dalam catatan sejarah dengan tinta emas.

Pahlawan Uhud adalah contoh kongkret tentang orang-orang yang ditinggikan derajatnya oleh ALLOH SWT.
Dalam hadits qudsi ALLOH SWT berfirman:
“Ketika kawan-kawanmu mendapat musibah dalam Perang Uhud, ALLOH SWT memindahkan ruh-ruh mereka itu ke dalam burung-burung hijau yang menghinggapi sungai-sungai surga sambil memakan buah-buahannya dan kemudian berlindung ke lampu-lampu emas yang bergantungan di bawah naungan Arsy.
Tatkala mereka merasakan nikmatnya tempat peristirahatan mereka di surga itu, berkatalah mereka: siapakah gerangan yang akan menyampaikan kepada kawan-kawan kami tentang hal ihwal diri kami yang hidup bahagia di surga, agar mereka tidak meninggalkan jihad dan agar mereka tidak licik meninggalkan medan perang?
ALLOH SWT menjawab:
Akulah yang akan menyampaikan kepada mereka perihal diri kamu semua.”
(HR. Ahmad)

Jika kita ingin meneladani ALLOH SWT dalam sifat Ar-Roofi’ ini, maka kita harus berusaha keras untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, serta membela hamba-hamba ALLOH SWT yang memperjuangkan tegak dienulloh.

ALLOH SWT akan meninggikan derajat orang beriman dan beramal sholeh, yang menjalankan semua perintah-Nya serta meninggalkan semua larangan-Nya.
ALLOH SWT meninggikan derajat orang-orang yang senantiasa berakhlak mulia dan suka berbuat kebaikan.
ALLOH SWT juga memuliakan orang-orang yang berilmu dan mau mengamalkannya.
Kemuliaan tersebut akan diberikan ALLOH SWT baik di dunia maupun di akhirat.

Jumat, 18 Mei 2018

AL-KHOFIDH - Maha Menjatuhkan/Merendahkan



ALLOH SWT berfirman:

خَافِضَةٌ رَّافِعَةٌ
khoofidhotur roofi'ah

"(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)."
QS. Al-Waqi'ah (56)/3

Qarun adalah sepupu Nabi Musa.
Tadinya Qarun sangat miskin.
Hingga suatu hari ia memohon kepada Nabi Musa: “Doakan saya, Musa, agar ALLOH memberi saya kekayaan.”
Nabi Musa berdoa dan ALLOH pun mengabulkannya.
Maka harta Qarun semakin bertambah, bertambah dan bertambah terus.

Saking banyaknya, Qarun harus membangun gudang-gudang besar unuk menyimpan hartanya.
Gudang harta itu demikian banyak sampai kuncinya saja harus diangkat beramai-ramai oleh orang-orang yang kuat.

Tapi sayang, Qarun lupa bahwa harta itu adalah pemberian ALLOH.
Ia jadi sombong, kikir dan tidak mau bersedekah.
Qorun berkata:
“Harta ini kudapat dari hasil kerja kerasku!
Kalau orang-orang miskin itu mau kaya, mereka harus bekerja keras pula sepertiku!”

Akhirnya ALLOH membenamkan Qarun dan seluruh hartanya ke dalam tanah.

ALLOH yang merendahkan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu dengan dengan kutukan dan merendahkan musuh-musuh-Nya dengan
menjauhkan mereka dari-Nya..

Barang siapa yang memperturutkan nafsu-nafsu hewani, ALLOH akan menurunkan dirinya ke derajat paling rendah.
Hanya Alloh-lah yang mampu melakukan semua ini karena Dia Yang Maha Merendahkan.

Ber-Dien Islam, seharusnya setiap orang sadar dan menyadari bahwa dirinya berada Di tempat dimana seseorang akan dihantarkan pada derajat stingginya di atas smua makhluk ciptaan ALLOH, tetapi jika aturan nya tidak diikutinya, maka berarti dirinya membiarkan terseret menuju pada kedudukan makhluk ciptaan ALLOH yang serendah rendahnya...

Kamis, 17 Mei 2018

Al Qaabidh - Yang Maha Menyempitkan



Al-Qaabidh mengandung dua pengertian, yaitu menyempitkan rezeki dan memendekkan umur.
Di tangan-Nya segala urusan rizki, dan di dalam genggaman-Nya pula soal nyawa makhluk-Nya.
Ketika Dia menahan rizki milik-Nya atas seseorang, hendaklah ia tidak protes, sebab rizki itu milik-Nya dan hak-Nya Dia semata untuk membagikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

ALLOH Subhanahu wa Ta'ala, berfirman:
“Dan ALLOH menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
QS. Al-Baqarah (2)/245

Untuk itu, sikap yang baik adalah menerima dan meyakini akan kasih sayang-Nya.
Keyakinan itu hendaknya diwujudkan dalam bentuk do’a dan ikhtiyar.
Terus berusaha keras dan cerdas untuk memperolehnya, seraya tidak lupa memanjatkan do’a.

Bagi kita, mengenali sifat dan asma  ALLOH  Al-Qaabidh ini, akan mendorong kita untuk berhati-hati menjalani hidup.
Kita tidak akan main-main ketika diberi titipan amanah apapun, sebab bila ALLOH melihat sesuatu yang tidak beres atas perilaku hamba-hamba-Nya, maka Dia segera mengambil tindakan dengan dua tujuan, yaitu peringatan atau hukuman.

Ketika kita lalai atau amanah karena khilaf, maka untuk memperbaikinya atau untuk mengembalikan kita pada orbit yang benar, ALLOH mengambil tindakan dengan menyempitkan gerak langkah kita melalui berbagai cara.
Mulai dari menyempitkan rizqi, memberikan rasa sakit, membatasi akses dan kesempatan, sampai pada menjadikan kita sesak dada dengan adanya berbagai tekanan dan himpitan permasalahan.

Seorang yang arif ketika menghadapi situasi seperti ini segera menyadari bahwa itu semua adalah teguran ALLOH, kemudian meresponnya dengan kembali pada jalan yang benar sesuai kehendak-Nya.

Untuk itu kita diajarkan bermunajat kepada-Nya agar diberi hikmah kearifan, dalam do'a:

رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ

robbi hab lii hukmaw wa al-hiqnii bish-shoolihiin

Ibrahim berdoa:
Ya Tuhanku...
berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh,"
QS. Asy-Syu'ara' (26)/83

Dengan hikmah kearifan itu kita bisa menangkap berbagai bentuk “sinyal” peringatan ALLOH yang didatangkan kepada kita.

Adapun bagi mereka yang keras kepala atau hatinya telah mati, berbagai peringatan ALLOH tidak direspon secara positif.
Mereka tetap berada di jalan yang sesat, sekalipun peringatan itu datangnya bertubi-tubi.
Terhadap mereka ini sudah sepantasnya diberi hukuman.

Hikmah lain dari kesadaran kita terhadap Asma ALLOH Al-Qaabidh adalah penerimaan kita terhadap segala putusan Alloh.
Orang-orang yang arif akan memandang bahwa segala sesuatu yang telah diputuskan ALLOH pasti yang terbaik.

Hal ini mengharuskan kita untuk “ridho” menerima segala ketetapan ALLOH dengan lapang dada, baik yang menyenangkan maupun yang tidak.
Keridhoan itu merupakan manifestasi dari keyakinan kita kepada taqdir Ilahi.
Dengan keridhoan itu, insya-ALLOH kita akan merasakan sekaligus menikmati lezatnya iman.

Senin, 09 April 2018

Berguru Pada Air



Alloh SWT berfirman:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi orang yang berakal,"
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka."
QS.Ali 'Imran (3)/190-191

Air adalah makhluk ciptaan ALLOH...
Air adalah hamba ALLOH yg setia taat patuh kpada perintah ALLOH...

Kita juga, Manusia adalah ciptaan dan hamba ALLOH ...

Selayaknya, kita mjalani hidup kita sbagai hamba ALLOH sperti air...
Agar sukses hidup kita di Dunia dan di Akhirat....

Ada apa dengan air?

Mari kita berguru kpada air....

Air bersifat mengalah,
namun selalu tidak pernah kalah..
Air mematikan api dan membersihkan kotoran..

Kalau merasa sekiranya akan dikalahkan,
air meloloskan diri dalam bentuk uap dan kembali mengembun.

Air merapuhkan besi sehingga hancur menjadi abu...
Bilamana bertemu batu karang, dia akan berbelok untuk kemudian meneruskan perjalanannya kembali...

Air membuat jernih udara sehingga racun menjadi mati...
Air memberikan jalan pada hambatan dengan segala kerendahan hati.
Karena dia sadar bahwa tidak ada suatu kekuatan apapun yang dapat mencegah perjalanannya menuju lautan....

Air menang dengan mengalah,
dia tidak pernah menyerang, namun selalu menang pada akhirnya.....

Air bisa tersebar dimana-mana di seluruh daratan bumi ini, di dalam tubuh manusia, di dalam pohon dan di segala jenis makhluk....
Tetapi ia memiliki tujuan yang jelas yaitu “Laut”.

Pasti...
Air akan begerak dan mengalir ke laut,Tujuannya jelas, cita-citanya kuat. ...

Gerakannya tegas mengarah ke tujuan, langkahnya pasti menuju lautan....
Air turun dari gunung melalui jalur darat yang terjal, ia membuka hambatan-hambatan dengan penuh kelembutan, kesabaran dan keuletan.
Jika ia bertemu batu cadas yang keras, ia berkelok ke pinggirnya, jika dipinggirnya juga batu keras, ia tertawan.

Tapi....
Air tidak pernah menyerah, ia bergerak secara rahasia, menembus pori-pori batu mencari celah jalan walau hanya sebesar lubang jarum atau lebih kecil, merembes terus menelusuri lorong-lorong mikro kecil sibatu keras yang menawannya. Sehingga muncul mata air, air keluar dari bebatuan, atau dari tanah-tanah subur....

Sungguh....
perjalanan yang tidak mudah dibaca dari rupa air yang lembut tetapi berhati kuat tegas menuju cita-cita....

Jika Sang batu tidak bisa ditembus, karena sang batu berhasil merapatkan, dan memadatkan dirinya, tak sedikitpun memberi peluang air merembes, menerobos pertahanannya....

Maka, Sang air akan dengan sabar menunggu kawanan air lain datang berkumpul, bersekutu menghadapi kepungan batu keras tadi....
Jika sudah terkumpul, maka ia lampaui batu keras keatasnya dengan tenang tanpa menghancurkan batu keras tersebut...

Namun...
jika tidak bisa dilampaui, kadang sang air berubah menjadi uap, bersekutu dengan sang surya.
Naik ke atas namun tidak untuk menuju matahari, ia hanya sekedar menebar di udara menjadi titik titik uap yang berserakan untuk kemudian menjatuhkan diri dengan lembut menjadi embun karena tujuannya adalah Laut....

Tapi...
Jika Sang surya tidak bisa dijadikan sekutunya maka ia bergeriliya untuk melubangi batu keras itu secara perlahan-lahan namun pasti...
Tercipta rembesan rembesan ciptaan air, bukan lubang kecil bawaan sang batu...
Tapi...
jika tidk bisa juga?,
ia basahi, basahi, basahi batu itu agar menjadi rapuh...
Kadang sang batu terlalu kuat.
Lantas bagaimana sang air?
Apakah ia prustasi? patah semangat? Kehilangan orientasi menuju tujuannya?

Tidak tak ada kata menyerah kalah bagi sang air, ia teramat kukuh kuat memegang komitmen dan menuju cita-citanya....

Sepertinya lembut, sepertinya lemah,
sepertinya mengalah,
ia kuat, lebih kuat daripada batu atau baja yang mengepung dan menawannya.
Ia akan menampakan dengan kekuatan sesungguhnya,
ia hancurkan batu besar yang menawannya,
ia jebol pertahananya;
*“Luar Biasa!”.*

Kadang ia dipaksa membeku menjadi es. Namun pada waktunya ia bergerak mencair kembali...

Rupanya kekerasan dan kelembutan tidak sanggup menahan gerak laju sang air yang berkeras menuju cita cita perjalanannya....

Ia lembut namun tak bisa ditusuk, tak bisa dipatahkan, tak bisa dihancurkan dengan kekuatan apapun...

Dia tetap eksis walau dengan berubah wujud, kadang cair, bisa jadi padat bahkan bisa juga bersenyawa dengan udara menjadi uap....

Dia dinamis dan pleksibel dalam wujud tetapi identitasnya tetap, eksistensinya tetap “AIR”.

Formasinya juga fleksibel, jika ditampung dalam botol akan membentuk botol, jika ditampung dalam gelas akan membentuk gelas.

Dalam tubuh manusia, air akan keluar dalam format darah, keringat, nanah dan air mata.

Dlm mjalani hidup ini, agar tercapai damai dan bahagia, haruslah disikapi Dan dijalani dg flesibel walau melelahkan demi mencapai cita-cita....

Sifat air...
Fleksibel dalam format, dinamis dalam gerak, tetapi tetap eksistensinya dan tetap identitasnya.

Sperti Itulah smestinya kepribadian stiap mu'min Muslim dan Muttaqien dlm mjalani prikhidupan sehari hari dlm mjalani hidup nya sbagai hamba ALLOH agar sukses amanahnya selaku khalifatulloh....

Smoga ALLOH subhanahu wa ta'ala mjadikan hari hari Yg kita lalui snantiasa dpt meningkatkan kualitas keimanan keislaman serta ktaqwaan kita smua....
 
Copyright © 2013 Belajar Takwa
Design by FBTemplates | BTT